Continued
Up sesuai mood
Menceritakan kisah seorang pembalap hebat bernama Michael White yang mengembara ke seluruh negeri untuk mengikuti turnamen Monkart bersama adiknya Robin. Bersama Monkart singa putihnya Leo, Michael sudah berhasil berulang...
Mendengar perintah dari Celestine membuat Dariel langsung memejamkan matanya dan membuat tatapan sayu yang indah.
“Matanya mirip dengan mataku,” ucap Starlight yang (terlihat seperti) terpana.
“Tutup matamu!” sahut Michael yang langsung menutup mata Starlight dengan tangannya.
“Cemburu lagi?” gumam Louis dan Rydine bersamaan.
“Memang itu keistimewaan Dariel. Itu sebabnya aku memilih nya,” ucap Phoenix.
Dipilih hanya karena matanya? Aneh sekali.
“Hahaha, apakah aku terlihat menyeramkan dengan mata barusan?” tanya Dariel.
“Umm, kau sangat menakutkan tau?!” pekik Nia kesal.
Dariel menatap Nia sesaat. Pandangannya sedikit berbeda ketika menatap Nia. Dia cukup menarik.
Mendengar kata hati Dariel barusan membuat Starlight terkejut dan membelalakan matanya. “Eh? Barusan kau bilang apa?” ucap Starlight refleks bicara. “Eh? Ah, maaf maaf.” Starlight langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika sudah menyadari apa yang terjadi.
Anak satu ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi? Batin Dariel menatap Starlight sekilas.
Hehe, maaf.
“Lalu, bagaimana dengan kristalnya?” tanya Louis memecah kesunyian.
“Dariel?”
Dariel segera mengerti maksud Celestine. Dia segera mengeluarkan liontin kalung yang sebelumnya tertutup bajunya. “Ini kan kristal yang kau cari?” Terlihat sebuah batu kristal berwarna perak mengkilap di sana.
Beberapa detik kemudian, liontin kalung Dariel bersinar dan kristal perak tersebut segera masuk ke dalam lubang gelang Starlight.
“Hanya untuk mengambil ini saja, harus banyak drama yang dilewati.” Starlight menatap Michael yang sedari tadi banyak emosi karena Starlight dekat dengan Dariel.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di kediaman Yvette selama beberapa waktu.
Rumahnya besar dan cukup mewah, banyak sekali barang-barang penting yang diletakkan di sana dan di sini.
“Silahkan kalian duduk dulu.” Dariel mempersilahkan para tamunya untuk duduk di bangku ruang makan.
Terdapat jendela di sisi kiri ruang makan yang menghadap ke arah laut. Ketika dilihat lebih lanjut, di bawah bangunan tersebut ada sebuah sungai. Dan ternyata rumah Dariel berada jauh di atas bukit.