Part 14 (Kota Leevea)

950 88 7
                                        

Maaf ya udah lama nggak memperbarui, nggak pamit juga lagi 😂
Maaf ya kalo pada kangen sama ceritanya

Next kuy lah

Starlight menatap sekeliling kota Leevea yang sangat indah. Rasa rasanya dia seperti pernah datang ke kota ini sebelumnya. Tapi kapan dan dengan siapa?

"Ada apa?" tanya Michael.

"Eh, tidak apa apa. Aku hanya merasa sedikit lapar saja," ujar Starlight.

"Kalau begitu ayo kita mencari penginapan dan makan siang. Aku juga lapar," keluh Robin kemudian.

"Ya sudah," ujar Michael sambil tertawa ringan. "Ayo kita mencari makan siang dulu."

Mereka bertiga bersama Leo dan Chicky berjalan menyusuri kota Leevea. Banyak sekali pembalap yang lewat bersama monkart mereka. Tapi tidak satu pun yang dirasa cocok bagi Starlight.

Akhirnya mereka tiba di sebuah restorant kecil yang menarik. Mereka pun segera memesan makanan yang ingin mereka makan.

"Di sini tenang sekali ya," ujar Starlight sambil menatap sekekeliling ruangan.

"Iya, kau benar kak. Aku juga suka suasana kota ini. Begitu tenang," balas Robin.

Saat Starlight menatap sekeliling ruangan tampak seorang laki laki berambut pirang bermata biru yang sedang berjalan menatap ke arahnya.

Kenapa dia menatapku? Pikir Starlight.

Laki laki itu bahkan sempat tersenyum pada Starlight. Tapi, ya sudahlah, apa masalahnya?

Saat makanannya sudah tiba mereka segera memakan makanan mereka.

"Tapi kira kira apa ada pembalap yang memiliki kristal Phoenix di kota ini ya?" tanya Robin setengah berbisik.

"Entahlah," jawab Starlight sambil mengangkat bahunya. "Ada atau tidak itu semua kan tergantung pada Phoenix."

"Benar juga," balas Robin.

Seperti yang sudah Michael katakan kali ini dia hanya akan menemani Starlight dan tidak akan mengikuti balapan monkart. Makanya kota Leevea dipilihnya untuk perjalanan pertamanya tanpa balapan. Karena kota Leevea belum memulai turnamen monkart.

Starlight...

*                  *                 *

Hari sudah menjelang malam, Michael, Starlight dan Robin segera istirahat di kamar penginapan yang mereka pesan.

Saat Starlight hendak masuk ke kamarnya dia langsung terhenti karena teringat sesuatu.

"Ada apa Starlight?" tanya Michael.

"Ah, tidak ada apa apa. Aku hanya melupakan sesuatu di meja makan," jawab Starlight.

"Melupakan apa?"

"Sapu tanganku. Sebaiknya aku ambil sekarang," ujar Starlight segera kembali ke ruang makan.

"Di mana ya aku meletakkan sapu tanganku tadi?"

Bukan masalah apa apa. Memang sapu tangan tidak begitu berarti. Tapi itu pemberian ibunya, jadi Starlight harus menjaganya dengan baik baik.

Starlight mencari di bawah kolong meja, namun tidak ada. Saar Starlight mengangkat kepalanya betapa terkejutnya Starlight saat melihat laki laki yang tadi dia lihat di restoran.

"Hah?!"

"Apa yang kau cari di sana?" tanya pria itu.

"A-aku sedang mencari sapu tanganku yang tertinggal di sini tadi," jawab Starlight.

"Ini," pria itu segera menyerahkan sebuah sapu tangan berwarna ungu bermotif bunga lavender. "Milikmu kan?"

"T-terima kasih," Starlight segera menerima sapu tangan itu.

"Kau tinggal di sini? Siapa namamu?" tanya Starlight.

"Namaku Arlon, Arlon Kenzie," jawab pria itu.

"Hai Arlon, namaku Sss...," Starlight langsung mengingat sesuatu. "N-namaku Starlight. Ya Starlight."

"Salam kenal ya Starlight," ujar Arlon.

"Kau tinggal di sini?" tanya Starlight lagi.

"Iya, aku bekerja di sini," jawabnya.

"Tunggu dulu, kupikir kita seumuran?" ujar Starlight bingung.

"Umurku 16 tahun, dan aku bekerja di sini untuk membantu keluargaku. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan sekarang aku tinggal bersama nenek ku," ujar Arlon.

Starlight langsung teringat Vettel yang sama sama kehilangan kedua orang tuanya. Dan dia harus hidup sendirian di jalanan.

"Pasti kau sangat sedih ya? Maaf sudah bertanya," ujar Starlight menyesal.

"Tidak apa apa," balasnya. "Ngomong ngomong kau berasal dari mana? Aku sepertinya baru pertama kali melihatmu di sini."

Eh? Padahal tadi siang dia baru saja melihatku kan? Namun Starlight berusaha mengalihkan perhatiannya.

"Iya, aku dari kota lain," jawab Starlight.

"Ngomong ngomong terima kasih ya untuk menyelamatkan sapu tanganku tadi," ujar Starlight lagi.

"Iya, sama sama," balas Arlon.

Starlight menatap mata Arlon dalam diam. Dia mencoba untuk memasuki pikirannya.

Dia cantik sekali

Starlight sangat terkejut saat mengetahui apa yang Arlon pikirkan. Tapi dia mencoba untuk menahan diri untuk tidak bertanya.

"Starlight?" suara itu membuat Starlight sadar.

"Michael? Ada apa?" tanya Starlight.

Siapa pria ini? Apa dia saudara Starlight?

"Kenapa kau belum kembali ke kamar? Ini sudah malam. Kau harus segera istirahat," ujar Michael.

"Baiklah. Aku permisi dulu Arlon," ujar Starlight kemudian mengikuti arah Michael pergi.











Maaf ya temen temen, author nggak bisa perbarui banyak banyak soalnya lagi dikejar kejar deadline ngumpulin tugas 😭😭😭
Doa in aja semoga tugasnya cepet selesai terus author bisa aktif memperbarui Monkart N Love ya

Adieu next part guys 👋🏻👋🏻👋🏻

Happy Reading Guys 😁

Monkart N LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang