Pesawat yang Starlight dan Dariel gunakan telah sampai di kota Sky Valley. Kerumunan orang yang berlalu lalang membuat orang tidak menyadari kehadiran Starlight dan Dariel. Lagipula siapa yang peduli? Tidak ada yang mengetahui identitas mereka bukan di kota ini?
"Berhati-hati lah, saljunya akan segera turun," ujar Dariel sambil membenarkan hoodie di kepala Starlight.
Mereka berdua berjalan ke arah utara menuju kediaman Rowan. Lalu bagaimana mereka bisa tau? Tentu saja itu diberitahu arahan oleh Phoenix. Dan benar saja seperti yang Dariel katakan di awal, salju sudah mulai turun.
"Apa kita berjalan ke arah yang benar?" tanya Starlight pada Phoenix.
Aku bisa merasakan, tapi sepertinya kalian justru akan bertemu di perjalanan ini - Phoenix.
"Dijalan? Apa dia sedang keluar?" pikir Dariel.
Karena melamun, secara tidak sengaja Dariel menabrak seseorang hingga orang tersebut terjatuh.
"Ah, maafkan aku, nona. Aku tidak melihatmu tadi," ucap Dariel yang langsung membantu wanita tersebut berdiri.
"Tidak apa apa, maafkan aku juga. Aku tidak bisa melihat," jawabnya.
"Denise?!" pekik Starlight.
Wanita tersebut kebingungan lalu dia merasakan ada energi hangat yang cukup akrab baginya.
"Putri Starlight, apa itu kau?" balasnya sambil tersenyum.
"Kau masih mengingat ku?"
Pada akhirnya Denise membawa mereka berdua berkunjung ke rumahnya. Paman dan bibi Denise sedang pergi keluar entah kemana. Mungkin sedang membeli persediaan makanan untuk musim dingin.
"Maaf, aku tidak bisa menghidangkan apapun untukmu," ujar Denise merasa bersalah.
"Tidak apa apa, ngomong ngomong ini teman ku, namanya Dariel," balas Starlight.
Dariel mengulurkan tangannya ke telapak tangan Denise. Begitulah cara Denise mengenali seseorang. Kalau tidak dari aura, suara ya menggunakan tangan.
"Ah, kau bukan Michael ternyata. Tanganmu begitu hangat, padahal di luar sedang dingin," ucap Denise sambil tersenyum.
Denise bisa merasakan kalau aura yang keluar dari tubuh Dariel adalah aura baik yang hangat. Berbeda dengan Michael, aura Michael memang baik, hanya saja aura nya terasa dingin baginya.
"Lalu, ada keperluan apa kau mencariku, Yang Mulia? Kupikir Rydine sudah ikut dengan yang lain?" tanya Denise kemudian.
"Tidak, ini tidak ada hubungan nya dengan Rydine atau yang lain. Aku kemari untuk menemuimu. Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu." Starlight mengeluarkan sebuah gelang permata sapphire dan menyerahkannya pada Denise. "Apa kau mengenali gelang ini?" sambung Starlight.
Denise meraba raba gelang yang Starlight berikan. Aura nya sama seperti gelang yang dia miliki peninggalan orang tuanya dulu.
"Gelang ini, apakah ini pasangan gelang peninggalan orang tua ku?" tanya Denise.
"Kau tau?"
Kemarin malam waktu di perpustakaan, Starlight menemukan sebuah kotak yang tersimpan di balik almari paling ujung. Di balik kotak tersebut terdapat gelang sapphire peninggalan dari kakek buyut Starlight untuk kedua anaknya. Yang satu untuk anak pertama dan yang lain untuk anak keduanya.
"Ah, pasti gelang ini yang ditinggalkan kakek untuk ibu, kalau begitu yang satunya lagi..."
"Gelang ini milik Roenna, dan yang lain milik Rowan. Kau adalah saudara ku, Denise Rowan," ucap Starlight lembut sambil memegang tangan Denise.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monkart N Love
FantastikContinued Up sesuai mood Menceritakan kisah seorang pembalap hebat bernama Michael White yang mengembara ke seluruh negeri untuk mengikuti turnamen Monkart bersama adiknya Robin. Bersama Monkart singa putihnya Leo, Michael sudah berhasil berulang...
