بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum Wr Wb
Kangen enggak sama Author?
Satu aja ya extra part-nya. Itung-itung perpisahan sama Bang Iyan. Wkwk
______
Zayn point of view
Soekarno-Hatta International Airport
Detik dan menit masih berlanjut, menjelajahi waktu yang entah kapan akan menemui ujung. Penantian akan menghadirkan sebuah pertemuan, begitupun pertemuan akan memisahkan keadaan. Bagaimanapun keterpurukan saya saat ini, semua sudah tertulis jauh-jauh sebelum saya terlahir.
Kuhembuskan nafas dalam-dalam, seminggu terpuruk di rumah sakit. Kabar duka menggema ditelinga. Jika diizinkan menangis, saya akan menangis ditempat ini juga. Namun keadaan tak mengimbangi kali ini. Seorang yang saya cintai menghembuskan nafas terakhir tanpa kehadiran saya di dekatnya. Hancur, patah semua seolah tak ada rasa mengungkapkan betapa sedihnya saya.
Kehidupanmu masih berlanjut, Zayn! Kupandang jam tangan di pergelangan tangan, berdampingan dengan gelang dari seseorang. Entah perasaan ini akan menghilang seiring waktu tanpanya, atau justru makin dalam. Saya tidak pantas untuknya hanya laki-laki penyakitan, pengecut, Yang hanya meninggalkan harapan saja. Dan sekarang meninggalkan dia tanpa jejak?
Maaf! Aku tak bisa di sampingmu. Kamu berhak dengan yang lain, yang lebih baik dari saya. Saya pamit bukan untuk meninggalkanmu tapi saya pamit untuk menghilangkan luka di diri kita masing-masing. Bila suatu saat kita dipertemukan, itulah takdir yang terbaik menurutnya. Tapi tatkala takdir mempertemukan kita dengan orang berbeda di sampingmu dan itu bukan aku. Itu adalah takdir terindah menurut saya.
"Umma bulan depan nyusul, hati-hati di sana." Umma memeluk erat. Aku tak bisa meninggalkan dia. Tapi dialah sumber kekuatan saya untuk bertahan. Hanya permintaan maaf dan terima kasih yang hanya bisa kulantunkan untuknya. Pandanganku beralih memandang Abi. Laki-laki yang mengajarkan saya banyak hal.
"Tetap jadi Agen Islam yang damai dan teduh di bumi Eropa, Zayn Farhiyyan." Ucapnya menepuk bahuku pelan. Siap, saya akan selalu menjaga nama baik Islam, yang teduh dan membawa perdamaian. Agent of Islam, menjaga Marwah Islam dibumi Eropa.
"Setelah sampai langsung hubungi dokter Edward ya Zayn!" Aku mengangguk menanggapi ucapan Om Azhar.
"Salam buat Aina, Mas." Saya memeluk saudara kembarku. Saya pasti akan merindukan bertengkar dengan dirinya. Adu argumentasi dan lainya. Aku melepaskan diri dari dekapannya. Apa rasanya dilangkahi adik sendiri? Biasa saja.
"Iyan pamit, Assalamualaikum." Saya menggeret koper, meninggalkan mereka. Menuju gate penerbangan bandara Soekarno-Hatta. Berat langkah kaki meninggal mereka. Tapi saya harus apa? Izinkanku bertahan ya Allah. Izinkanku pulang nanti masih melihat senyuman mereka.
"Gus Zayn." Suara itu? fokus Zayn! Fokus! "GUS ZAYN FARHIYYAN."
Reflek menoleh saat suara itu terdengar keras dan lantang. Benar-benar keras kepala dia. Di semakin berlari menghampiri saya. Ku ukir senyuman kepada Pak Hasyim dibelakang gadis itu. Sabar Pak punya anak rada somplak kaya dia!
"Kenapa yang habis gagal nikah?" Ucapku, bukan tawa yang aku lihat. Wanita itu malah menangis di depan saya. Baru kali ini ia menangis. "Lah malah nangis."
Ia malah menoleh ke belakang, melihat Ayahandanya. Ada apa dengan dia?
"Makasih hiks." Ucapnya malah semakin sesenggukan. Ia elap ingusnya dengan kerudung hitam yang ia kenakan. Beruntung saya bukan orang yang gampang ilfeel.
"Iya saya terima ucapan terima kasih kamu."
"Saya izin janji menunggu Gus menepati janjinya." Ucapnya. Saya tersenyum tipis mendengar penuturannya.
Ia bukan tipe orang yang memandang wajah atau mata ketika berbicara dengan lawan jenis tepatnya yang bukan mahram. Sekarang saja ia masih menunduk, kaya Maba ketemu Senior. Jangan bayangkan ia berdiri selangkah dari saya. Boro-boro, lagi physical distancing Omicron. Syawal! Syawal!
"Yakin bisa bertahan? saya lama loh disana." Saya juga tidak tahu akan berapa lama disana.
"Gampar laki-laki kaya dia, Wal. Gampar!" Teriak Umma, pembelaan dengan teman satu frekuensi, bisa saja.
"Saya enggak janji, Sya. Tapi saya akan mengusahakan itu." Saya tidak bisa berjanji untuk itu. Saya tak tahu kedepannya akan bagaimana. Bisa saja kematian yang akan mendahului menjemput sebelum saya tepati janji itu. Dia malah semakin menunduk dalam.
"Saya pamit ya! Jaga diri baik-baik kalau berjodoh enggak kemana."
"Gus tinggal dimana?" Tanyanya.
"Saya mau ke Eropa?"
"Eropa luas, Gus." Kesalnya. Saya tahu Eropa luas. Saya cuma kawatir kamu nyusul saja ke sana. Ingat Zayn tipe percaya dirinya di atas rata-rata.
"Tak seluas rahmat dan Cinta-Nya pada seoarang hamba. Saya belum bisa ucapin Ana ukhibuki fillah sama kamu, begitupun saya juga enggak boleh bilang I love you."
"Kenapa?"
"Karena saya belum jabat tangan Bapak buat qobiltu." Ku lirik Pak Hasyim di sana. Pria paruh baya itu hanya tersenyum menangapi ucapan saya. Jujur saya tak pernah bilang cinta kecuali sama keluarga. Maaf saya belum bisa mengungkapkan kata-kata itu sebelum kita benar-benar diikat oleh takdir yang mempersatukan dalam sebuah tali pernikahan. Mblo sabar! Mblo!
"Saya pamit, jangan nangis gitu! malu sama Umma itu." Lagi-lagi dia menangis. Apa coba yang ia tangisi.
"Saya nangis bukan karena Gus mau pergi, tapi saya nangis gara-gara enggak boleh makan seblak seminggu kedepan."
Gusti Allah, ada ya orang kaya dia. Astaghfirullah lebih mementingkan seblak. "Kenapa Pak?" Tanyaku kepada Pak Hasyim.
"Ngeyel, tipesnya kambuh dia." Syukurin! Dikasih tahu ngeyel. Biarlah wanita keras kepala kaya dia.
"Duluan semua, Assalamualaikum." Pamitku. Langkahku kali ini tak seberat beberapa detik yang lalu. Ada secercah kepastian dan keikhlasan yang saya dapatkan. Setidaknya hari-hariku kedepan tidak digeluti rasa gelisah karena jodoh. Tapi saya yakin jodoh akan menemukan jalan tersendiri nantinya. Hanya perlu manjadi hamba yang baik, memantaskan diri untuk menjadi sebaiknya seorang hamba. Hingga takdir mengajak kita pulang atau mempertemukan kita dengan seseorang.
Kamu adalah cara Tuhan mengajarkan saya ikhlas. Kamu adalah kata terbaik tatkala saya tak bisa mengungkapkan sepatah kata. Izinkan saya pamit, sampai jumpa ditakdir terindah menurut-Nya. Aslih Syawali....
____
Kesan dan pesan dong baca cerita ini, dijawab ya!!! Bisalah!
Rencananya mau bikin yang sad gitu, ya elah si Syawal malah nangisin seblak.
Season 2 kayaknya sehabis bulan Syawal mulai aktif ya. Semoga Author dan reader's sama-sama diberi kesehatan, saya nulis kalian baca. Sehat selalu kalian. Stay safe.
Author pamit, Sampai jumpa di Bumi Eropa. LDR nih ye wkwk.
Jazakumullahu Khoiron.
Wassalamu'alaikum wr wb
KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Syawal #1 (End)
Teen FictionSequel Presma pesantren, bisa dibaca terpisah. Ketika menjadi berbeda itu pilihan, termasuk anak kembar. Punya perbedaan juga, dan juga tak harus di samakan Bukan? "Gue disini hanya ingin menyalurkan kebahagian Gue, kenapa harus seperti ini yang Gue...
