Gamal pulang, ia menyerngit memijat kepalanya yang terasa pusing. Efek kejadian tadi masih saja terasa hingga sekarang, untung saja Nathan tidak sibuk dan bisa dimintai pertolongan untuk menjemputnya dengan mobil.
Gamal langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah sampai di kamarnya, ia berusaha memejamkan matanya. Hari ini sangat berat dan melelahkan baginya.
Ceklek!
Brak!
Mendengar pintu kamarnya yang dibuka lalu dibanting, membuat Gamal sontak membuka kedua matanya. Ia segara bangkit lalu menemukan sosok ayahnya yang lebih berdiri diambang pintu.
Wajah lelaki bersetelan jas itu terlihat dipenuhi amarah. Dio berjalan mendekat.
"Jelaskan ini sekarang. Ini apa Gamal?"
Tatapan Gamal tertuju pada sebuah buku yang ayahnya pegang, Gamal jelas mengenali buku apa itu. Buku catatan lagu-lagu yang pernah ia ciptakan.
Lelaki itu berkacak pinggang seraya menatap Gamal lebih intens, masih menunggu jawaban dari sang anak.
"Jawab!"
Gamal seperti tertangkap basah, otaknya dibuat berkerja cepat mencari jawaban.
"Sudah berapa kali ayah bilang sama kamu Gamal? Kamu main musik lagi?"tanya Dio.
Gamal meneguk salivanya, keringat dingin mulai bercucuran.
Pm
Dio memalingkan wajahnya, ia tak percaya dengan apa yang ia temukan. "Ayah sudah melarang kamu bukan? Berhenti main musik!"
Gamal seolah tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mematung dengan kepala tertunduk.
Dio sudah kehabisan sabar, lelaki itu langsung melanjutkan aksinya merobek buku itu hingga terbagi dua dan lalu membantingnya ke lantai.
Gamal tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan kedua matanya, amarah ayahnya begitu besar hingga ia mempu membelah buku itu dengan kuatnya.
"Stop main musik! Ini peringatan terakhir dari ayah. Kalau kamu sampai main musik lagi, lihat apa yang akan terjadi Gamal."
Setelah mengatakan itu, Dio langsung pergi dan membanting pintu.
Kedua mata Gamal terus tertuju pada bukunya yang tergeletak di lantai. Perlahan tanpa ia sadari kedua matanya mulai memanas dan perlahan itu pula air matanya jatuh.
Gamal menutup kedua matanya dengan kedua tangan, ia merasa kacau sekarang. Dadanya terasa sesak, dirinya berasa dicambuk dengan apa yang ia lihat dan ia dengar dari ayahnya.
Begitulah sikap Dio, ayahnya tak pernah merestui Gamal untuk menyentuh atau bahkan mengenal musik. Lelaki itu sangat membencinya.
Tatapan Gamal tertuju ke arah nakas yang tepat berada di samping tempat tidurnya. Ia melihat sebuah bingkai foto dengan tatapan sendu.
-oOo-
Dara hanya bisa bernafas jengah. "Ternyata dunia percintaan ribet juga..."gumamnya.
"APA KATA LO?!"sentak Gina dengan lantang hingga membuat beberap pengunjung cafè terkejut dibuatnya.
Dika mengusap air matanya, cowok itu menangis hingga kedua matanya memerah dan pipinya basah.
"Pacar Lo itu selingkuhin Lo?"tanya Gina
Dika menciut, ia mencoba menahan untuk tidak menangis. Dia tidak secengeng itu.
"Jangan kencang-kencang ngomongnya, gue malu,"kata Dika.
"Kok bisa dia selingkuhin Lo?"tanya Dara jengah, menurutnya permasalahan seperti ini sangat muak bagi Dara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tomorrow (COMPLETED)
Teen FictionDara adalah seorang selebgram terkenal yang sering meng-cover lagu, namun ia menyembunyikan identitasnya. Suatu hari tanpa dia duga sebuah akun Instagram mengikutinya. Dara terkejut mengetahui siapa pemilik akun tersebut, pemiliknya tak lain adalah...
