"Dika awas!"
Bruk!
Sialnya tubuh Dara lebih cepat membentur tubuh Dika, kepala gadis itu pun membentur dada bidang milik Dika. Dika memasang wajah terkejut, sementara Dara memejamkan matanya.
Untung saja tubuh Dika kokoh, cowok itu hanya sedikit terhuyung ke belakang namun untungnya tak jatuh.
Dara bersyukur Karna dirinya dan Dika tak jatuh bersamaan, jika tidak ya bisa dipastikan Dara akan menindih tubuh Dika.
Cepat-cepat Dara sadar dan bangkit menegakan tubuhnya, ia berusaha berdiri lalu merapihkan helaian rambutnya.
"Di-Dika..."lirih Dara sedikit terbata. "Mu-muka Lo... merah!
Dika menyentuh kedua pipinya dengan kedua tangan.
"Sial!"gumamnya dengan suara pelan.
Dara meneguk ludahnya susah payah, ia masih sedikit syok dengan kejadian tadi.
Kemudian Dara memperhatikan Dika yang masih menutupi kedua pipinya dengan kedua tangan.
Arah pandangan Dara tertuju pada leher Dika. Kemudian telunjuk Dara terangkat.
"Dika, leher Lo...?"Dara menggantung ucapannya. "Memar."
Menyadari itu, Dika langsung memeriksanya, menyentuh bagian leher yang Dara tunjuk.
"Lo gak papa? Ini Karna tadi gue nabrak Lo ya? Kebentur kepala gue?"tanya Dara.
"E-enggak papa kok, gak sakit."
Dara mulai mendekat kearah Dika untuk melihat memar di leher Dika dengan dekat.
"Perlu diobatin gak? Kayanya memarnya cukup serius."
"Gak usah, gak papa. Gue baik-baik aja."
Dara mendongak, melihat mata cowok itu. Dari tatapannya itu Dara langsung tidak bisa berkata-kata lagi.
Keadaan jadi canggung sesaat, Dara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh iya, kayanya gue gak bisa ikut Lo pake rencana itu. Hari ini gue ada janji sama seseorang, gak enak kalau dibatalin gitu aja."
"Gitu ya? Gak papa."
Setelah mengatakan itu, Dika berbalik badan lalu berjalan mendahului Dara. "Ayo kita ke kantin, gue udah lapar banget,"ajak Dika.
Dara masih diam mematung ditempatnya, rasanya tiba-tiba canggung setelah kejadian itu.
Dika benar-benar berjalan duluan, meninggalkan Dara yang masiu diam ditempatnya.
Entah malu atau apa, Dika lebih mempercepat langkahnya, wajah cowok itu semakin memerah. Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian ia menghentikan langkahnya.
Beberapa saat kemudian Dika menunduk, cowok itu itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menahan malu.
"Sebenernya apa yang gue rasain?"
Pertanyaan itu muncul. Dika mengangkat kepalanya perlahan, melepaskan tangannya dari wajahnya.
"Lama-lama bisa gila!"
-oOo-
Sore ini Dara janjian di mall sekitar Blok M Jakarta Selatan. Hari ini ia janjian bersama Gamal untuk nge-date. Iya! Gamal memintanya untuk nge-date sekali lagi untuk menebus kesalahannya waktu itu.
Keduanya sengaja memilih Jakarta Selatan agar lebih jauh dari daerah rumah mereka yang berada di Jakarta pusat. Alasan utamanya sih agar tak bertemu orang yang mereka kenal dari sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tomorrow (COMPLETED)
Fiksi RemajaDara adalah seorang selebgram terkenal yang sering meng-cover lagu, namun ia menyembunyikan identitasnya. Suatu hari tanpa dia duga sebuah akun Instagram mengikutinya. Dara terkejut mengetahui siapa pemilik akun tersebut, pemiliknya tak lain adalah...
