45- Keputusan

167 27 8
                                        

"Gue gak tau harus ngapain,"Helaan napas berat terdengar, Gamal menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi, memejamkan matanya.

"Ini kan masalah dia, kenapa Lo harus ikut campur? Lagipula emang Lo siapanya dia? Kenal aja enggak, kan?"

Gamal mematung, seolah pertanyaan yang terlontar dari mulut Nathan benar semua. Dia juga jadi bingung, kenapa dia harus bertingkah seperti ini?

Panggilan telepon itu sudah berlangsung selama 1 jam lamanya, selama itu juga Gamal terus meminta banyak pendapat dari Nathan, ya... Rupanya cowok itu cukup berguna jika ia sedang stress untuk memecahkan satu masalah.

"Sebenarnya orang yang Lo duga 'Tomorrow' itu siapa sih? Temen satu sekolah Lo?"

Gamal membuka matanya, ia langsung melihat ke arah ponselnya.

"Kok Lo tau?"

"What?! Jadi cewek yang suka nge-cover lagu itu... Temen satu sekolah Lo?"

"Iya, gue udah nyadar kalau itu dia bahkan sejak sebelum gue Deket dia."

"Wait-wait, Deket sama dia?"

Gamal menghela napas pelan, ia memijat kepalanya. Kenapa ia seceroboh itu mengatakan hal tersebut?

"Dia sekelas sama gue."

"WHAT?! JADI DIA TEMEN SEKELAS LO?!"

Gamal tersentak, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya akibat suara Nathan yang melengking dan menyakiti Indra pendengarnya.

"Siapa? Gue kenal? Gue pernah ketemu?"

Gamal mendesah pelan. "Bukan urusan Lo. Lebih baik sekarang Lo cari cara gimana gue bisa bantuin dia."

Dehaman panjang terdengar dari seberang sana, Nathan terdengar berpikir dengan keras.

"Lo udah bilang kalau Lo tahu siapa dia sebenarnya?"

"Gak. Lagipula itu hak yang gak mungkin, mana mungkin gue bilang kalau gue tau kalau dia pemilik akun tomorrow."

"Ini sulit sih, gue jadi gak bisa mikir. Masalahnya ini cukup berat, apalagi tomorrow punya sangkut paut sama Cotton candy."

Gamal sudah tahu apa jawabannya, ini membuatnya sangat bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa, tak tahu harus memulai dari mana, semuanya nampak sulit.

"Wait... Tapi ngomong-ngomong kalau Lo tau tomorrow itu temen sekelas Lo... Kenapa Lo gak rekrut dia aja jadi vokalis band Lo?"

"Lo pikir itu masuk akal? Yang ada nanti semua orang tau siapa tomorrow."

"Bener-bener sulit. Nanti gue pikir lagi deh, ada banyak pelanggan soalnya hari ini. Gue sibuk. Sorry ya."

Panggilan telepon tersebut terputus bersamaan dengan helaan napas berat dari Gamal. Cowok itu tertunduk, menangkup wajahnya diatas meja belajar.

-oOo-

Dara menatap layar ponselnya, lebih tepatnya menatap pesan dari cotton candy yang tak ia balas selama 1 Minggu.

Pikiran Dara kalut, ia masih bimbang untuk memutuskan apakah ia akan menerima tawaran kolaborasi itu atau tidak.

Dara menundukkan kepalanya hingga membuat wajahnya tertutup rambutnya. Ia sedikit mengacak-acak rambutnya sendiri saking frustasinya.

"Apa yang harus gue lakuin? Apa mungkin ini tanda bahwa gue akan berhenti jadi tomorrow?"

Pikirannya berkecamuk untuk waktu yang cukup lama. Satu poin dan poin lainnya Dara pertimbangkan, ia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan.

Tak lama setelahnya Dara menatap layar ponselnya lagi. Tatapan ragu masih tertuju nyata.

"Gue harus terima tawaran ini. Karna ini cara satu-satunya biar gue bisa keluar dari semua masalah ini."

Semua rasa ragunya ia lawan, perlahan Dara mengetik diatas keyboard ponselnya, membalas pesan dari Cotton candy.

Dari tomorrow:
Halo, terimakasih telah menghubungi saya. Setelah saya pertimbangkan tawaran anda, saya sangat tertarik untuk berkolaborasi. Saya tunggu untuk teknis kolaborasinya.

Terkirim...

Dara melepaskan genggaman tangannya dari ponsel, ia seolah nampak lega setelah pesan itu terkirim.

Semua keputusan berada ditangannya, baik itu keputusan yang benar atau salah, namun setidaknya Dara sudah mengambil cara untuk bisa terlepas dari masalah ini, lagipula ia tak merasa bersalah disini.

Ting!

Dara yang tengah menyadarkan dirinya di sandaran kursi belajarnya, tiba-tiba dibuat tersentak pelan saat ponselnya berbunyi. Gadis itu cepat-cepat melihat pesan apa yang masuk.

Sial! Setelah melihatnya, kedua mata Dara terbuka lebar, ia syok melihat pesan dari siapa itu.

"Langsung di bales?"

Pesan itu dari cotton candy. Ternyata dia sangat fast respon. Apakah ini tandanya memang cotton candy sangat mengharapkan agar mereka bisa kolaborasi?

Cotton candy:
Halo. Terimakasih atas tanggapan anda. Saya sangat senang jika anda tertarik dengan tawaran saya. Untuk teknisnya, jika tidak berkeberatan, bagaimana kalau kita bertemu langsung untuk membicarakan kolaborasi kita?

"KETEMU LANGSUNG?!"

Menyadari suaranya sangat kencang, Dara langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan, membekapnya kuat-kuat.

"Kenapa dia ngajak ketemuan sih? Gue gak pernah ketemu orang sebagai tomorrow! Ini gak mungkin."

Dara melepaskan genggaman tangannya dari ponselnya lagi, ia menyandarkan tubuhnya lalu sedikit menjauhkan kursinya dari meja belajar, gadis itu mengarahkan pandangannya pada jendela kamar, berusaha mencari pemandangan untuk menyegarkan pikiran.

"Kalau dia gak beneran mau menyelesaikan masalah ini, ngapain juga dia capek-capek serius bahas kolaborasi ini?"

"Tapi... Apa penting ya semua ini? Dia berani banget ngambil keputusan ini, sedangkan gue...?"

Dara mendesah berat. "Tapi gak ada salahnya juga buat ngelakuin hal itu kan? Lebih cepat, lebih baik."

Dara meraih ponselnya kembali, gadis itu mengetik balasan.

Dari tomorrow:
Baiklah, saya kira itu tidak masalah dan ada benarnya juga jika kita membahas prihal ini secara langsung. Bagaimana jika besok? Untuk tempatnya akan saya infokan lagi.

-oOo-

Dara mengajak Cotton candy untuk datang bertemu dengannya di cafè Victoria, ia memilih tempat itu karena hari Sabtu memang pengunjungnya tak seramai hari Biasanya, jadi mereka bisa membicarakan hal ini lebih nyaman dan fokus.

Dara melihat jam di ponselnya, sudah telat 15 menit, cotton candy tak kunjung datang. Jantung Dara berdegup kencang, ia dibuat takut bertemu cotton candy.

Yang Dara pikirkan sekarang:

Bagaimana sifat asli cotton candy?

Apa dia jutek?

Dia kan artis, pasti wataknya keras?

Apa yang dia tunjukkan di YouTubenya sama kaya aslinya?

"Halo."

Dara langsung tersadar dengan sapaan yang datang dari arah pintu masuk cafè. Gadis itu langsung menoleh dan menemukan sesosok gadis cantik berambut sebahu tengah tersenyum ke arahnya.

Dari penampilannya yang fashionable, sudah bisa dipastikan kalau itu cotton candy.

-oOo-

Ini gak tau ya, WHAT IS WRONG WITH WATTPAD?! Kan harus capek mindahin semua part Karna kena limit.

Nyalain dulu bintangnya!

Tomorrow (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang