Eyyoo!!
Happy reading guys<3
~~~
'Nyatanya, maaf lo hanyalah permainan'
~~~
Sudah dua hari Alessa dirawat, namun belum ada tanda-tanda Alessa siuman. Dan sejak hari itu, Eza selalu menemani Alessa di rumah sakit.
Cukup mudah bagi Eza mencari keberadaan Alessa, jadi jangan heran jika Eza bisa tahu walau Ervan selalu menutupinya.
Sungguh, Eza sangat menyesal sudah mengatakan yang tidak-tidak tentang kekasihnya itu. Jika saja dia tidak mendengarkan dengan cermat perkataan Ervan waktu itu, mungkin sekarang dia tidak bisa bertemu dengan Alessanya lagi.
"Maafin gue.. gue udah ngomongin yang enggak-enggak tentang lo, gue bener-bener nyesel" ucap Eza
Cowok itu terus menggumamkan kata maaf sejak pertama kali menemui gadisnya itu
"Bangun yuk.. gue janji gak akan bentak lo lagi, gue janji akan selalu ada saat lo butuh, dan gue janji bakal nurutin semua perkataan lo.. dan gue minta maaf karena gue gak ada waktu itu dan malah jalan sama Fia, maaf gue bener-bener minta maaf. Lo boleh kok marah sama gue, jambak rambut gue, atau tarik telinga gue sepuas lo, gue gakpapa tapi gue mohon cepet sadar, udah dua hari lo tidur terus hiks hiks, e-emang gak kangen s-sama Eza.." ucap Eza sesegukan, dia tak kuasa menahan tangisnya melihat orang yang paling disayanginya terbaring lemah di rumah sakit seperti ini
"Sepertinya sekarang dia sadar jika telah salah membuang berlian demi sebuah batu galena" ucap Geo setelah menutup pintu kembali saat mendengar ucapan Eza
"Parah sih. Dulunya bad boy sekarang jadi sad boy" sahut Sean
"Gila sih, dia baru kali ini nangisin cewek" ucap Ari
Keadaan kembali hening, mereka bertiga sibuk dengan pikirannya masing-masing
"Kenapa gak masuk?" Tanya seseorang yang baru saja datang
"Monyet terbang"
"Bang Aksa cantik"
Spontan Geo dan Ari karena kaget, sedangkan Sean hanya berjengkit kaget mendengar suara Aksa yang tiba-tiba itu
Aksa yang mendengar ucapan spontan Ari pun langsung menatap horor sang empu,
"S-so-sorry b-"
"Gue masih normal. Jangan pernah naksir gue" ketus Aksa memotong ucapan terbata Ari
Geo dan Sean langsung bergidik ngeri membayangkan jika ucapan Aksa barusan benar adanya
"Anj- gue juga masih demen cewek ya bang! Asal lo tahu aja, selera gue mah cewek modelan Dilraba bukan kaleng-kaleng kek lo!" Sewot Ari karena dikira gay
"Waduhh sayang nih di sini gak ada kaca" sindir Geo
"Ri, Ri, sini deh lo tatap mata gue, siapa tahu lo pengen ngaca ya kan" saran Sean
Sedangkan Ari menatap sinis keduanya saat mendengar ledekan dari Sean dan Geo
"Sadar diri boy. Semakin tinggi ekspektasi, semakin tinggi peluang depresi" ucap Aksa datar seraya menepuk pelan pundak Ari dan berlalu memasuki ruang rawat Alessa
"Bang Aksa sekalinya ngomong panjang nyelekitnya sampai ke tulang sum sum" ucap Ari seraya mengelus dadanya dramatis mendengar ucapan Aksa barusan
"Mampus" ucap Sean dan Geo dengan tawanya
Mereka bertiga pun langsung mengikuti Aksa masuk ke dalam,
"Gimana kondisinya?" Tanya Aksa datar pada Eza yang tengah sibuk menghapus air matanya
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEZA (END)
Fiksi RemajaEND ~~~ "Mau minta tol-" "Gak bisa gue sibuk" "Bentar aja gak bisa ya?" "Gue lagi nemenin Fia. Lo pergi sendiri bisa kan?!" "Ohh Fia lebih penting dari gue ya" ~~~ "Ibarat hukum atom" "Hukum atom?" "Ada saatnya memiliki, dan ada saatnya melepaskan" ...
