RENJANA BY SISKAKRML
Instagram : @siska_krml dan @hf.creations
****
Pada sebuah taman di tengah hutan, aku mengayun tubuhku menggunakan kaki. Tiba-tiba seseorang mendorong ayunanku, tatapanku segera menoleh. Pria itu lagi, pria yang sama dengan seseorang yang kutemui di pinggir pantai lalu menghilang. Pria yang sangat kuharapkan datang lagi setelah kabar kepergiannya sampai pada telingaku.
"Jio," panggilku.
"Terlalu kencang ya ayunannya?"
Aku menggeleng.
"Kenapa, Ta? Kamu mau cerita sesuatu?" tanyanya.
Aku hanya diam, tak perlu bicara sepertinya dia sudah tahu apa yang ingin dan akan aku ceritakan.
"Kamu udah menemukan rumah?"
"Bukan kamu lagi, Ji," ucapku tiba-tiba.
"Tapi aku selalu jadi bagian yang kamu ingat kan, Ta?" tanyanya seraya berhenti mengayun, ia berdiri di belakangku. Kecepatan ayunan semakin berkurang, akupun diam.
Pria itu beralih ke hadapanku ketika ayunan benar-benar berhenti, ia bersimpuh menyentuh jemariku. "Ta," panggilnya.
Aku terus menatapnya dengan sedikit menunduk, ia mengelus pelan punggung tanganku. "Kamu harus hidup tanpa ada aku lagi," ucapnya membuatku seketika meneteskan air mata.
"Gimana caranya? Kamu gak pernah ajarin itu sebelum kamu pergi, kan?"
Jio tersenyum tipis, menyeka air mataku. "Karena aku tahu kamu lebih mahir."
"Kamu gak pernah tahu seberapa susah semua itu."
"Kamu hampir sampai, Ta."
Ia berdiri, mengelus pelan rambutku. "Aku belajar merelakan kamu ketika kamu belajar menerima dia. Ternyata itu meringankan langkah aku, Ta, jadi teruslah semakin jauh."
Pria itu menunduk, berniat mencium keningku namun tiba-tiba aku mengingat Malvin. Aku tidak mau siapapun menyentuhku kecuali dia, akhirnya aku mendoring tubuhnya menjauh dan mataku terbuka kembali ke dalam kamar bernuansa putih dan hitam.
Malvin terbaring tenang di sampingku, aku merapatkan tubuhku dengannya mencari kenyamanan. Pria itu yang merasa pergeraka tubuh, membuka sedikit matanya.
"Kenapa, Ta?" tanyanya parau.
"Aku takut," ucapku.
"Kenapa?"
Aku menyimpan kepalaku di bawah dagu Malvin, semakin merapatkan tubuhku. Pria itu menyimpan lengannya di bawah kepalaku dan mengelus pelan kepalaku.
"Kamu nggak akan kemana-mana, kan?"
"Ta, aku kan disini. Kamu aja meluknya erat gini gimana aku mau pergi?"
Benar, tetapi tetap saja aku sangat ketakutan. Kepergian orang yang berarti di hidupku begitu berpengaruh pada rasa trauma dan seluruh bahagia yang kini kupunya.
"Janji dulu, Malvin," ucapku mendesak.
"Gak bisa dong, Ta, kan aku harus kerja," ucapnya seraya terkekeh.
Aku diam, justru menangis. Malvin yang mendengar isakan segera memeriksa wajahku, ia tekejut seketika.
"Ta, kok nangis?" tanyanya. "Sini bangun dulu, minum," lanjutnya seraya membantuku bersandar di sandaran tempat tidur dan mengambil segelas air mineral di atas nakas.
"Maaf ya, aku kira kamu cuma ngelindur," ucapnya.
Aku memberikan gelas berisi air mineral itu pada Malvin, menyuruhnya menyimpan kembali di atas nakas. "Aku mimpi."
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA
RomansGrita Anatasya, gadis malang yang terusir dari rumahnya dan berkelana sampai ia menemukan Bandung dan pria asing yang akhirnya mejadi cerita terhitung Tahun. Bahagia, luka, makna setia, dan bagaimana mereka saling merumahkan adalah renjana yang semp...
