ketujuh belas

73 50 38
                                        

Jangan lupa vote dan komen.

Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___

"Yuk ah udah adzan tu"

Arsya melepas sepatunya dan meletakkan dibawah kursi begitu juga Nanda.

"Yuk" ujar Nanda girang.

Mereka berjalan keluar dan ngobrol sambil tertawa membahas kejadian yang dialami Rahmat.

"Eh Arsya"

Nanda dan Arsya berbalik menatap orang yang memanggil nama Arsya itu. Arsya mengangkat alisnya dan mendapati kakak kelasnya terlihat grogi dihadapan cowok itu.

"Ini!"

Arsya menatap heran sebuah kado yang berwarna biru serta pita yang membuat kado itu terlihat mewah.

"Buat apa kak? Aku belum ultah loh" ujar Arsya.

Cewek pendek itu menggeleng dan tetap kekeuh menyerahkan hadiah yang dia siapkan sejak tadi malam untuk laki-laki itu.
Nanda yang merasa diacuhkan langsung mengambil hadiah dari kakel nya itu.

"Oke makasih kak, Arsya pasti suka banget sama hadiah kakak ini." Ujar Nanda kemudian menarik laki-laki jangkung yang kurang peka ini.

"Kok lu terima?" Tanya Arsya.

Nanda mendengus kasar, "terus gua harus ngeliat drama disiang bolong begini paduka?!!" Ketus Nanda melirik sinis Arsya.

"Ya nggak gitu, ntar kalau dia mikirnya gua Nerima perasaan dia gimana??" Tanya Arsya yang mulai gusar.

"Udah tenang aja lu, selagi lu sama gua semua aman!" Ujar Nanda.

Nanda dengan ganas merobek hadiah dari kakel nya tersebut dan mendapati sebuah kalung dengan setengah hati.

"Hahahaha, kalung kopel ni ceritanya, hahahahah" Nanda tertawa sambil menenteng kalung pemberian kakel tersebut.

Seketika rasa geli menjalar di sekujur tubuh cewek tomboy itu, ia memasukkan kalung dari kakel tadi kedalam saku baju Arsya dengan kasar dan mencubit tete datar Arsya gemas.

"Aakh!!!!" Teriak Arsya saat Nanda mencabuli dadanya.

"Rasa juijiq gue jadi berkali-kali lipat ngeliat tuh kalung! Plus muka lu yang kek babi air sok polos gitu! Huump!"

Arsya mengelus dadanya, rasa perih dan nyeri menjadi satu. Kalau saja Nanda juga cowok pasti ia sudah membalas perbuatan cewek itu kepadanya.

"Untung cewek Lu!" Ketus Arsya masih asik mengusap dadanya.

"Yeeuu! Omes lu!" Nanda menyilangkan tangannya menutupi dadanya.

Arsya memandang jijik Nanda.

Mereka terus bertengkar sambil berjalan hingga saat mereka melewati workshop multimedia langkah kaki mereka berhenti dan diwaktu yang bersamaan Alfi keluar dari ruangan itu.

Adegan kali ini seperti di film-film India, angin berhembus pelan membuat jilbab Nanda berkibar pelan membuat Alfi menatap kedua sahabatnya dan kedua sahabatnya menatap balik Alfi. Tidak ada suara, hanya lalu lalang dari siswa siswi lain.

Nanda menghembus napas pelan dan kembali menarik Arsya. Mereka berpapasan namun tidak ada sapaan hangat dari gadis tomboy itu dan Arsya hanya bisa melambai pelan kepada Alfi dengan tangan di dada dan tersenyum. Alfi tersenyum pahit dan hanya mengekor dari belakang.

"Udah lu wudhu disini, gua disana yakali gua ikut wudhu ditempat cewek." Arsya melepas tangan Nanda dari lengannya.

"Hm" balas Nanda memasuki toilet perempuan.

Improvements Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang