Jangan lupa vote dan komen.
Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___
3 hari lagi ujian semester akan dilaksanakan seluruh murid tampak sibuk menyiapkan segala macam kisi-kisi bahkan contekan.
Arsya memasuki kelas dengan keadaan yang sangat kusut. Nanda melirik sekilas dan mengabaikannya. Kali ini dia membiarkan Arsya duduk di kursinya sendiri, entah sudah berapa kali Nanda mengusir Arsya namun tampaknya cowok itu ingin sekali duduk di sebelah Nanda sampai tunggu di usir dulu baru pergi.
"Sya lo kenapa?" Tanya Ira yang saat ini duduk santai di kursi untuk guru. Dia memandang Arsya dari atas hingga bawah.
Arsya tidak menjawab.
"Palingan bikin onar lagi" celetuk Nanda santai membolak-balik buku catatannya.
Mendengar itu Arsya menatap Nanda dengan sinis.
"Sok tau!" Ketus Arsya tanpa mengalihkan pandangannya. Nanda langsung menoleh dan bibirnya berkedut ingin memaki.
Setelah kejadian dari barak beberapa waktu lalu membuat keduanya semakin menjarak, Arsya masih menaruh curiga. Dia sudah lelah mencari Fahri di seluruh penjuru kota bahkan ke pelosok kota dia sambangi namun tidak menemukan cowok itu.
"Gue taulah, sejak lo kenal sama tu cewek selain bikin onar lo gak ada prestasi apapun lagi" masih dengan celetukan nan kasar itu yang terus Nanda berikan pada Arsya.
Arsya tidak membalas ucapan Nanda, terlalu pagi untuk membuat keributan. Dan seperti yang sudah di jelaskan dia masih lelah.
"Diam kan lo, ucapan gue gak pernah salah" lagi Nanda seolah memantik api dalam diri Arsya.
Tak lama Alfi datang sama seperti Arsya, baju yang biasanya rapi kini sudah berantakan dan keringat membanjiri tubuhnya.
"Heuhh ni anak lagi, sama kacaunya kek lo"
Ira yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya kepada Veni dkk, sorot matanya bertanya apakah perkelahian tanpa fisik itu terjadi karenanya? Di sudut sana Veni, Nabila dan Yeni hanya mengangguk dan menyuruh Ira untuk kembali ke kursinya.
Adam berdiri dari kursinya diikuti oleh beberapa anak laki-laki yang lain. Suasana kelas mulai menyuram. Apalagi kini Arsya menatap nyalang Nanda begitupun sebaliknya.
Kilat amarah itu saling beradu. Berduel lewat tatapan gitu?
"Ngajak ribut lo?" Sinis Arsya.
"Kalau iya kenapa?"
Alfi memasuki kelas dengan napas ngos-ngosan kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja menumpu badannya yang terasa lemas.
"Heuhhh..... Heuhhhh..... Plis... Jangan berantem duluuuuu......" Intrupsi Alfi masih mengatur napasnya.
"Jauh-jauh deh lo akasia!" Sentak Nanda menutup hidungnya.
Alfi tersenyum masih dengan napas yang naik turun dengan cepat.
"Lo ngajak ribut?" Alfi tersenyum tapi terdengar suara gigi yang saling beradu dari dirinya.
"Waduh!" Seru Johanes dan berjalan, melihat itu Adam juga ikut mencoba melerai.
"Oke okeee gue paham lo bertiga lagi dalam keadaan yang kurang bagus untuk di satukan" Adam mencoba menarik Nanda agar beranjak dari kursinya.
Ketiga sahabat itu saling bertatapan dengan emosi yang membara.
"Jangan tarik gue!" Berontak Nanda namun Adam dengan kuat menahan tangan Nanda.
"Ujian 3 hari lagi, jangan bikin keributan. Kalau lo masih kekeuh mau berantem berarti lo sama aja kek mereka, suka buat onar!" Jelas Adam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Improvements
Teen Fiction>>>SEBELUM MEMBACA FOLLOW AKUN @Smk_arsitek TERLEBIH DAHULU<<< Jangan lupa vomment dan masukin kedalam perpustakaan pribadi kalian!!! Awal mula perjalanan Nanda masuk sekolah menengah adalah mendapatkan sekolah yang nyaman dan memiliki akreditasi y...
