kedua puluh satu

67 44 11
                                        

Jangan lupa vote dan komen.

Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___

"Terlihat berbeda"

Alfi mengusap wajahnya membaca sederet chat dari Arsya yang mengintrogasi dirinya mengenai pertengkarannya dengan Regas. Namun ia urung untuk membalas chat Arsya, membacanya saja sudah membuat bulu kuduk Alfi meremang.

Kalau udah gini pasti dia bakal ngasih maklumat yang panjang.

Alfi mendengus dan mematikan handphone nya, terlalu banyak spekulasi yang berkeliaran di kepalanya, ia ingin segera menjelaskan permasalahan yang terjadi kepada Arsya tapi guru mata pelajaran kejuruannya tidak keluar-keluar membuatnya frustasi dan menjambak rambutnya.

"Kenapa Lo?" Tanya Adit yang berada disebelah Alfi.

Alfi menoleh Adit yang asik memakan permen karet, melihat itu membuat Alfi enggan menatap Adit lama-lama.

"Gapapa, btw Bu Sinta kok gak keluar-keluar sih??" Decak Alfi yang kembali menjambak-jambak rambutnya.

Adit mengangkat alisnya sebelah.

"Kan biasanya emang gitu" balas Adit sambil mengangkat bahu ringan.

Alfi mendengus menatap bu Sinta dengan kepala yang sudah terbaring diatas meja, helaan napas tak berhenti ia keluarkan mengekspresikan rasa bosan yang melanda. Ibu Sinta terlihat sibuk dengan para siswi yang duduk melingkari meja guru. Perbincangan mereka tidak jauh-jauh dari mata pelajaran hari ini yaitu  fotografi.

"Kita butuh suplayer Bu" ujar Dita yang memberikan usulan.

"Suplayer buat apa Dita?" Tanya Bu Sinta.

"Untuk model hari ini Bu, ibu taulah didalam kelas ini cowo-cowonya emang mukanya lumayanlah. cumaa rasa pede nya gak ada, jadi kita butuh model dari jurusan lain...." Jawab Dita panjang lebar.

Bu Sinta berpikir sebentar dan memperhatikan satu persatu siswa siswi nya.

"Gak usah dari jurusan lain Dita.. kita punya model kok" Metha menyela usulan Dita.

"Siapa?" Tanya Dita.

Telunjuk Metha mengarah kepada Alfi yang saat ini tengah menatap mereka jengah.

"Hmmmm.... Boleh juga" ucap Bu Sinta menyetujui Metha.

Dengan senyum bangga Metha mendekati Alfi yang membuat cowok itu mengangkat kepalanya dan menatap Metha dengan bertanya-tanya.

"Apa?" Sentak Alfi yang langsung to the point.

Metha merotasikan matanya menanggapi ke judesan Alfi.

"Kita ada projek ni, lu harus jadi role modelnya" kata Metha.

Alfi menyatukan kedua alisnya kemudian beralih menatap Bu Sinta yang mengangguk membenarkan kalimat Metha.

"Ah males lah, elu aja yang jadi modelnya" tolak Alfi.

"Iiihhh, gak bisa fiii, pokoknya harus elo!" Metha mulai mendesak Alfi.

Tampak kini Alfi sedang malas untuk meladeni teman sekelasnya itu, dia memilih menenggelamkan kepalanya dibawah lipatan tangannya.

"Ayolah fi! Projek ini bakal diliat sama kepsek juga" Metha kembali membujuk Alfi yang pada dasarnya sangat anti berada didepan kamera baik berfoto atau pun Vidio.

"Kagak" balas Alfi.

"C'mon, you're so lazy guy!" Ujar Metha yang jengah dengan sifat Alfi.

"Lu tau gue pemalas, ngapain lu usulin nama gue kalau tau itu---"

Improvements Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang