Jangan lupa vote dan komen.
Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___
Arsya menatap pak Retno yang sedang memberikan informasi terkait ujian yang akan di tunda selama seminggu dan menyinggung perihal tawuran.
"Saya menyayangkan kejadian minggu lalu, banyak kekacauan. Persiapan ujian serta penerimaan siswa baru tertunda karna tawuran kemarin. Saya harap pelaku-pelaku tawuran kemarin sadar mengenai hal itu. Dan untuk kalian yang tidak ikut bisa jadikan ini pelajaran bahwa tak semua harus di selesaikan dengan perkelahian" pak Retno memandang Nanda dan Arsya bergantian.
Arsya tidak menggubris dan tidak peduli sedangkan Nanda hanya menatap pak Retno sembari menangkup wajahnya.
"Baik, jadi selama menunggu waktu ujian kalian bisa baca-baca buku paket dan jangan lupa ambil kartu ujian sama buk Erika"
Mereka semua mengangguk.
Pak Retno kembali menatap Nanda dan Arsya. Helaan napasnya terdengar begitu sangat berat dan tampak raut wajah kecewa terpatri jelas.
"Ya sudah, saya mau balik ke workshop jadi tolong jangan ribut" pak Retno berjalan keluar kelas.
Setelah pak Retno benar-benar sudah hilang dari pandangan Nanda ikut keluar dari kelas.
"Mau kemana nan?" Tanya Adam menatap Nanda. Gadis itu berbalik.
"Mau ke barak, lagian gak ada guru yang ngajar kan?"
"Iya sih"
Nanda tidak menggubris dan berlalu dari sana.
Kelas benar-benar sunyi, Arman dan Johanes yang biasanya rusuh kini tak bersuara karna Arsya duduk tepat di belakang mereka.
"Sya!"
Seluruh atensi menoleh pada sumber suara dari pintu.
Arsya melirik sebentar lalu menatap Alfi yang tampak terengah. Melihat sohibnya di tengah kepanikan cowok itu segera beranjak dari kursi dan menghampiri Alfi.
"Fahri hilang!" Ucap Alfi berbisik di telinga Arsya.
Cowok jangkung itu lantas menukikkan alisnya tajam.
"Udah lo cek?" Tanya Arsya menggertak rahangnya.
"Remi baru dari gudang, katanya om-om kepala plontos juga gak ada" bisiknya lagi.
Seluruh kelas penasaran dengan apa yang di bicarakan Arsya dan Alfi itu, bahkan Johanes sudah meletakkan telapak tangannya di telinga mencoba mendengar ucapan mereka.
"Ayo cari!" Ajak Arsya berlalu dari kelas.
"Sekalian hubungi Gigi, Abbiyu, Samuel sama yang lain. Suruh mereka bantuin cari dia!" Titah Arsya yang langsung di angguki Alfi.
Anak Dpib segera berbondong keluar kelas dan menatap punggung Arsya yang menuruni tangga pembatas.
"Plis gue pengen naik kelas, pengen liat adek-adek baru. Kenapa tu anak gak bisa diam sih.?" Keluh Fadli berdecak sebal.
"Iye kan, gue udah harap ini yang terakhir eh taunya ada lagi" sambung Arman.
Sekelas mengangguk setuju dan mereka sama-sama menghela napas.
........
Nanda sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tangannya menutup wajah, dia mencoba mengistirahatkan diri dengan menyendiri.
Brak!!
Nanda tersentak dan langsung menegakkan badan menatap pintu yang sudah terbuka lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Improvements
Teen Fiction>>>SEBELUM MEMBACA FOLLOW AKUN @Smk_arsitek TERLEBIH DAHULU<<< Jangan lupa vomment dan masukin kedalam perpustakaan pribadi kalian!!! Awal mula perjalanan Nanda masuk sekolah menengah adalah mendapatkan sekolah yang nyaman dan memiliki akreditasi y...
