keempat puluh satu

57 14 23
                                        

vote dan komen.

Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___

Kantor polisi

Nanda masih bergeming menatap rutan yang sedang menampung beberapa siswa SMA 1, SMA 2 dan SMK.  Tampaknya kasus ini tidak bisa di indahkan melihat kericuhan yang terjadi.


"Kenapa sih nan? Kita mau jenguk Arsya loh, kenapa muka lu jutek gitu?" Veni yang menyadari raut wajah teman semasa SMP nya yang terlihat muram dan suram itu hanya bisa bertanya-tanya dan bingung.

"Gapapa ven, gue lagi gak mood aja jumpa kadal gurun" ujar Nanda dengan pandangan lurus.

Saat ini mereka hanya berdiri di depan pintu masuk.

"Lu lagi marahan sama Arsya?" Tanya Veni.

Nanda melirik Veni sebentar "nggak, gue gak marahan. Cuma lagi kesel doang" balas Nanda.

Veni ber-oh ria dan memilih diam karena tidak tau mau membahas apa lagi, sedangkan Nanda sudah menyiapkan sumpah serapah untuk seluruh perusuh itu.

Setelah beberapa menit berdiam diri  akhirnya mereka masuk ke dalam kantor polisi, sebelumnya mereka melapor dulu untuk menjenguk langsung kedalam sel, karna bukan hanya Arsya yang ingin ditemui oleh Nanda.

"Oh iya. Anwar, Adam, Fikri sama yang lain dimana?" Tanya Nanda yang berbalik celingak-celinguk mencari rombongan laki-laki yang ikut membesuk.

"Hm? Gak tau tuh, perasaan tadi orang itu udah pergi duluan" jawab Veni.

Nanda menatap pintu keluar kantor polisi kemudian menghela napas dan berbalik.

"Ya udah deh, kita duluan aja" usul Nanda berjalan memasuki lorong menuju sel tempat Arsya dkk dikurung.

Ada satu orang petugas yang mengawal mereka, Nanda berjalan dibelakang petugas.

Langkah Nanda terhenti sejenak saat melihat seorang gadis beserta beberapa gadis lain sedang berada tepat didepan sel tempat Arsya dkk dikurung.

Mendengar orang lain masuk ke dalam rutan membuat seorang gadis  berbalik dan tatapannya langsung mengarah pada Nanda, ia melirik Nanda tak suka kemudian berpaling. Veni menyadari hal itu dan segera menoleh kearah Nanda yang sudah bermuka masam. Tidak dapat dielakkan jika kini Nanda tengah meredam api didalam kepalanya, hal itu terlihat jelas Dimata Veni.

"Nan..?" Tegur Veni menepuk pelan lengan cewek tomboy itu.

Nanda mengacuhkan suara Veni, dia terus menatap gadis itu dengan pandangan yang menusuk. Disana Arsya juga menatap Nanda dan gadis itu bergantian. Ia ternganga di tempat begitu juga Alfi yang kini sudah menggigit keempat jarinya.

Nanda menghela napas pelan dan meletakkan barangnya diatas meja yang sudah disediakan oleh petugas, lalu Nanda berjalan mendekati jeruji itu, Nanda menurunkan pandangannya pada gadis itu yang kini mendongak menatap Nanda dengan sinis.

Dengusan itu kembali terlontar dari bibir Nanda kemudian Ia menoleh menatap orang-orang didalam sel.

"Gimana? Nyaman gak?" Tanya Nanda sembari bersidekap dada menatap datar semua laki-laki didalam sel tahanan.

"Mayanlah" jawab Fakri salah satu anggota Gigi.

Nanda tersenyum miring, "btw om Harvi bakal kesini, dia bakal ngasih pelajaran tambahan buat lo" ujar Nanda masih mempertahankan senyumannya.

"Ha! Lo cepuin ke bokap gue?!!!" Seru Fakri yang langsung berdiri dan menghampiri Nanda tergesa.

Nanda mundur selangkah, "iyalah! Lagian lu pikir tawuran kemaren gak diberitain? Tolol!" Hardik Nanda dengan emosi.

Improvements Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang