keempat puluh delapan

38 9 20
                                        

Jangan lupa vote dan komen.

Happy reading💜
_________,,,,_______,,,,___

Seringai kecil yang tertangkap netra Fahri terlihat sangat menyeramkan. Dia bingung namun satu sisi dia harus jujur.

"Kenapa gue harus lindungin elo? Lo anaknya gak mungkin dia niat ngebunuh elo kan..."

Fahri melipat bibir dengan kuat. Keringat membasahi wajah.

"Emang gue anaknya dan akan selalu begitu... Tapi, lo gak tau sifat aslinya gimana"

"Ya gak akan tau lah selagi lo gak kasih tau gue" orang itu memutar-mutar pisau yang berada di tangannya.

Fahri menggigit bibirnya pelan, rasa resah itu cukup membuatnya terbebani.

"Ayo, apa yang bakal lo kasih tau ke gue sebagai satu alasan buat gue ngelindungin elo" desak orang itu membuat Fahri merasa tertekan.

"Kembaran gue..... Hhhh.... Dia adalah alasan bokap gue selama ini.." ujar Fahri dengan tergesa.

Matanya melebar seiring deru napas yang naik turun tak karuan, orang yang berada di depan Fahri hanya menekuk alis.

"Kembaran huh?" Ulang orang itu dengan ragu.

Fahri mengangguk kencang dan memberikan tatapan yakin.

"Terus apa hubungannya?" Tanya orang itu lagi.

"Huhh...! Lo masih gak ngerti?"

Orang itu diam.

Fahri menunduk, tarikan napas yang berat serta helaan yang begitu panjang membuat orang itu semakin tidak mengerti.

"Dengarin cerita gue dari awal sampai selesai......" Ujar Fahri kemudian.

Flashback •

(Fahri POV)

2015 - 03 - 05, kamis.

-Identitas yang bertukar-
-Fajri & Fahri -

"Dia punya gue Fahri, kebiasaan buruk lo selalu mengambil milik gue!"

Saat itu gue masih kelas 11, di umur 17 tahun gue lagi kasmaran sama seorang cewek. Dia cantik, kepribadiannya cukup baik. Kesan pertama yang gue lihat dari dia adalah mata berkilau dan tulusnya menatap gue.

Namun, hal itu seketika hancur ketika gue nemuin cewek yang gue suka di kamar kembaran gue.

"Milik lo? Huh... Hahahahhaha.... Dia bahkan gak nolak ajakan gue"

Fahri memegang wajah cewek itu cukup kasar.

"Iya kan?"

Dia bahkan gak bisa melawan Fahri. Sedangkan gue? Jelas gue langsung narik Fahri dari atas ranjang dan memukuli nya tanpa ampun. Tapi, kembaran psiko gue itu malah ketawa terbahak-bahak walau darah mengalir deras dari mulutnya.

"Udah puas?" Ucap Fahri menyeringai.

Gue menetralkan napas lalu beralih menatap cewek itu. Dia tampak ketakutan, gue menatap sendu dirinya yang mencoba menutupi diri dengan selimut.

Kembali dengan Fahri, gue mencengkram lehernya kuat.

"Setiap apa yang gue suka lo selalu rusakin Fahri! Apa mau lo? Gak cukup bikin gue menderita?"

Improvements Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang