Karina memasuki ruang kelasnya dan berjalan menuju tempat duduknya lalu meletakkan tasnya. Karina ingin pergi meninggalkan kelas hingga panggilan seseorang menghentikan langkahnya.
"Karina!" kata seorang perempuan dengan rambut lurus panjang berwarna coklat, Karina menoleh.
"kau baru saja sampai, sekarang mau kemana lagi?" kata perempuan itu.
Karina berjalan mendekati perempuan itu lalu merangkulnya pelan.
"Giselle, kita sekarang sudah kelas berapa?" kata Karina kepada perempuan yang dipanggil dengan Giselle itu.
"sudah kelas 3 SMA." jawab Giselle
"kalau begitu untuk anak kelas 3 SMA, dimana tempat yang akan selalu di kunjungi?" kata Karina tersenyum tipis.
"..." Giselle terdiam lalu memutar bola matanya 180 derajat untuk berpikir.
"kau tidak tahu? Apakah kau benar seorang murid kelas 3 SMA?" kata Karina melepaskan rangkulannya.
"aku siswa kelas 3 SMA! Ah! aku tahu! Kantin. Benar kan? Kau selalu saja tidak sempat sarapan dari rumahmu." kata Giselle dengan decihan di akhir kalimatnya.
"bukan! Perpustakaan. Bukankah itu tempat yang selalu di datangi oleh siswa kelas 3 SMA?" kata Karina sedikit berteriak.
"ah perpustakaan... benar. Tidak heran kau selalu berada di posisi pertama." Kata Giselle tersenyum paksa.
"tentu saja, kalau begitu aku pergi dulu." Kata Karina lalu dibalas anggukan dan senyuman tipis dari Giselle.
"Dia belajar dengan sangat keras, aku khawatir. Tapi walaupun begitu semoga berhasil." Kata Giselle setelah kepergian Karina.
"siapa? Aku?" kata seorang laki-laki dari belakang Giselle, Mark.
"tidak, kau hanya perlu lebih banyak berolahraga untuk membentuk beberapa otot lagi, supaya kau bisa memasukkan bola ke dalam ring basket. Semoga berhasil." Kata Giselle lalu pergi meninggalkan Mark yang mengangguk pelan.
-----
Bel istirahat pertama sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Hanya dalam waktu 5 menit kantin sekolah sudah dipenuhi oleh para siswa. Beberapa siswa tampak mengantri untuk menunggu giliran mereka dikarenakan banyaknya siswa yang datang ke kantin.
Beruntung karena pelajaran di kelas Karina tadi selesai lebih awal, sehingga mereka sudah selesai membeli makanan mereka dan menemukan meja untuk tempat mereka beristirahat dan menikmati makanan mereka.
"akan sangat enak bila pelajaran kita selalu selesai lebih awal." kata Giselle lalu memakan roti lapis keju miliknya.
"benar juga, kepalaku sudah hampir pecah melihat deretan angka di papan tulis tadi." kata Renjun memegang kepalanya.
"benarkah? Aku tidak merasa seperti itu. Jika kelas kami mempelajari pelajaran matematika aku sangat menikmatinya, sangat menyenangkan." Kata Winter.
Karina mengangkat tangannya untuk mengajak Winter untuk high five. Itu karena Karina setuju dengan perkataan Winter. Winter membalas high five itu dengan senyuman di bibirnya.
"melihatmu tersenyum seperti itu, terlihat sangat baik." Kata Jaemin tersenyum merekah.
"aku sudah cukup sakit kepala karena pelajaran matematika tadi, melihatmu seperti itu membuatku tambah sakit kepala." kata Renjun melihat Jaemin.
"tapi sejak kapan kalian berpacaran?" Tanya Chaeryeong.
"benar, aku juga penasaran." Kata Yeji.
"apa yang kalian katakan? Kami tidak berpacaran." Elak Winter.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fanfiction📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
