Tampak Karina dan teman-temannya berada di parkiran sekolah. Ternyata butuh waktu lama bagi mereka untuk menjalankan hukuman untuk membersihkan sekitaran lapangan sekolah yang sangat luas itu karena ketahuan membolos di jam pelajaran. Hingga saat ini pukul 17.30 mereka baru bisa pulang dari sekolah.
"Wajahku terbakar panas matahari." Rengek Somi sambil melihat pantulan wajahnya di cermin sepeda motor Hyunjin.
"Kulitku cukup menghitam." Kata Hyunjin.
"Lebih baik menghitam daripada terbakar, kau kan vampire." Kata Haechan.
"Berhenti berbicara omong kosong." Kata Hyunjin sambil meninju lengan Haechan.
Haechan pun mengelus lengannya lalu berjalan menjauhi Hyunjin.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Haechan pada Karina.
"Dengan Jeno." Kata Karina.
Setelah bertatapan dengan Jeno di lapangan tadi, Jeno menghampiri Karina dan mengajak Karina untuk berbicara sepulang sekolah dan Karina menyetujui itu.
"Kalian bahkan belum menikah, tapi sudah terlalu banyak perkelahian. Tapi untungnya juga kalian bisa cepat akur kembali." Kata Haechan mengakui.
"Selamat menikmati waktu kalian." Kata Haechan, Karina mengangguk.
"Kalau begitu siapa yang mau pulang denganku?" tanya Haechan.
"Bisa-bisanya kau mencari boncengan lain?" kata Yangyang.
"Maaf, aku lupa." Kata Haechan santai.
"Lupa? Kita bahkan pulang sekolah bersama hampir setiap hari." Kata Yangyang.
"Aku silap temanku, naiklah!" kata Haechan, Yangyang pun segera naik.
Satu persatu dari mereka pun pergi meninggalkan parkiran. Hingga yang terakhir Winter dan Jaemin menunggu Karina yang belum pergi karena Jeno belum datang setelah tadi sempat permisi ingin pergi ke toilet.
"Kalian pergi saja. Aku rasa dia akan datang sebentar lagi." Kata Karina pada Winter dan Jaemin.
"Baiklah. Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah." kata Winter, Karina mengangguk.
"Kami pergi lebih dulu." Pamit Jaemin pada Karina lalu mereka pergi meninggalkan sekolah.
Lima menit kemudian Jeno datang ke parkiran.
"Semuanya sudah pulang?" tanya Jeno, Karina mengangguk.
"Kalau begitu ayo pergi dari sekolah." kata Jeno ingin naik ke atas sepeda motornya hingga perkataan Karina menghentikan tindakannya.
"Tidak ada yang ingin kau katakan padaku selain itu?" tanya Karina, Jeno menoleh.
"Aku rasa kita tidak perlu pergi kemana pun. Jika memang kau ingin berbicara supaya tidak ada orang lain yang tahu maka saat ini sekolah sudah tepat untuk itu." kata Karina langsung ke intinya.
Benar, saat ini sekolah tampak cukup sepi. Para siswa sudah lama meninggalkan sekolah. Mungkin hanya beberapa guru maupun siswa-siswi yang ikut kegiatan ekskul saja yang masih ada di sekolah.
Jeno membuang nafasnya pelan.
"Kalau begitu mau pergi ke lapangan basket saja?" tanya Jeno.
Karina pun mengerutkan keningnya bingung dan pada akhirnya dia mengangguk setuju.
Di lapangan basket.
Karina ternganga melihat Jeno yang saat ini dengan lincahnya bermain bola basket. Dia memang pernah mendengar kalau Jeno adalah kapten tim basket di sekolahnya dulu dan mereka sudah berhasil membawa piala nasional.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fanfiction📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
