Setelah perbincangan panjang tentang Jaemin dan Winter, ibu Shin memutuskan untuk mengakhiri kelas walaupun masih tersisa satu les lagi. Mereka tidak menyangka, apalagi ketika mendengar alasan itu Shin yang lucu bagi mereka.
Ibu Shin bilang kalau dia sedang berada dalam kondisi yang kurang fokus untuk mengajar karena berita itu. Tentunya itu disampaikan dengan suara pelan yang masih bisa didengar oleh seisi kelas, tapi tidak terdengar sampai keluar kelas.
Ibu Shin juga meminta agar hal itu tidak dikatakan kepada guru lain, apalagi kepada kepala sekolah, takutnya guru favorit mereka bisa dapat peringatan. Perkataan ibu jadi hiburan bagi mereka.
Tapi sebagai gantinya ibu Shin mengizinkan mereka untuk bebas melakukan hal apapun asalkan tetap berada di dalam kelas dan jangan terlalu berisik karena bisa mengganggu kelas yang lain.
Ibu Shin juga memberikan tugas dan membebaskan siswa untuk mengerjakan sekarang atau di rumah, yang penting tugas itu harus selesai sebelum 2 hari ke depan yang nanti akan di kumpulkan sebelum kelas pertama dimulai.
Sebagai ketua kelas, Mark diandalkan oleh ibu Shin untuk mengumpulkan tugasnya dan membawanya ke meja ibu Shin di kantor.
Lucunya Ibu Shin bilang kalau semisal ada yang bertanya kenapa tidak ada ibu guru, katakan saja kalian diberikan waku untuk belajar mandiri dan mengerjakan tugas. Padahal sebenarnya bukan karena itu saja, ibu Shin juga megakui kalau ibu Shin ada sedikit kegiatan penting yang harus dikerjakkan.
Setelah menitipkan banyak pesan ibu Shin pergi meninggalkan kelas. Kepergian Ibu Shin membuat mereka kembali ke kesibukan mereka. Terlihat ada dari mereka yang segera mengerjakan tugas, bercerita dengan yang lain, mengambil posisi untuk tidur dan lain sebagainya.
Karina meletakkan kepalanya diatas meja dengan berpangku pada kedua tangannya. Jeno yang melihat Karina masih dengan ke khawatiran yang sama pun mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Karina pelan.
Karina yang merasakan elusan tangan Jeno pada kepalanya seakan membuatnya merasa lebih tenang.
"Aku juga ingin memiliki seorang kekasih yang mengelus kepalaku saat sedih seperti ini." kata Giselle melihat Jeno dan Karina bergantian.
"Disini ada Haechan." Kata Yangyang melihat Giselle.
"Jika dia orangnya, maaf! Aku tidak butuh." Kata Giselle, Yangyang tertawa puas.
"Kenapa kau membawa-bawa namaku hanya untuk diejek?" kata Haechan tidak terima pada Yangyang.
"Di saat kondisi seperti ini kalian masih bisa tertawa?" kata Ryujin melihat tajam kepada Yangyang dan Haechan.
"Yangyang yang memulainya terlebih dahulu." Kata Haechan membela diri, Ryujin tidak mengindahkan pembelaan dari Haechan.
"Lagian seperti yang ibu Shin katakan, kita harus bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja." Kata Mark.
"Benar, tapi rasa khawatir membuatku tidak bisa mengendalikan ekspresiku." Kata Giselle.
"Kalau begitu ikuti ekspresiku saja." Kata Haechan lalu membuat ekspresi wajahnya serius.
"Jika kau berekspresi seperti itu aku rasa Seeun tidak akan melihatmu lagi." Kata Renjun, Haechan pun merubah ekspresinya.
"Jangan-jangan dia akan pindah sekolah juga." Kata Renjun menambahi.
"Sebelum itu Seeun akan berpacaran dulu dengan Jisung." Kata Ryujin.
"Jika itu benar-benar terjadi, aku sangat menyukainya." Kata Yeji mendukung.
"Yak! Bisa-bisanya kalian mengarang bebas pada saat seperti ini?" kata Haechan tidak terima.
"Ekspresimu menyebalkan." Kata Somi.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fanfiction📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
