38

68 4 8
                                        

Winter bersandar di balik pintu darurat sedangkan Jaemin berdiri tepat di hadapan Winter.

“Haruskah kau berkata seperti itu di hadapan mereka?” kata Winter membuka suara.

“Mengatakan apa?” kata Jaemin.

“Karena tidak ada jaminan kalau dia akan selalu bersamaku… karena itu aku melakukannya selagi bisa.” Kata Winter serius.

Jaemin pun menatap Winter lekat setelah perkataan Winter itu.

“Menurutmu apa yang akan dipikirkan oleh mereka setelah kau mengatakan itu?” kata Winter.

“Atau… apa yang kau harapkan dari mereka jika kau berkata seperti itu?” kata Winter lagi.

“Aku tidak mengharapkan apa-apa dari mereka.” kata Jaemin.

“Lalu kenapa mengatakan hal seperti itu pada mereka?” kata Winter.

“Apa salahnya? Bukankah aku benar?” kata Jaemin.

“Apanya?” kata Winter.

“Aku benar tentang hal kalau aku harus melakukannya selagi bisa.”

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Sudah kukatakan akan membantumu untuk pulih.”

“Benar, kau mengatakannya. Tapi apa yang akan terjadi jika aku sudah pulih?”

“…” Winter terdiam, dirinya tidak sanggup menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jaemin.

“… kau akan pergi.” Kata Jaemin serius.

“Itu…” kata Winter ragu.

“Kenapa? Apa aku salah?” kata Jaemin.
Winter pun menghela nafasnya pelan lalu duduk di anak tangga di belakang Jaemin.

“Duduklah.” Kata Winter, Jaemin menurut.

Winter melihat Jaemin dalam diam sedangkan Jaemin melihat lurus kedepan. Cukup terusik akan pandangan itu, Jaemin pun menoleh.

“Apa?” kata Jaemin.

“Tersenyumlah.” Kata Winter.

“Aku sedang tidak berada pada kondisi yang baik untuk tersenyum.” Kata Jaemin.

“Kalau begitu menangis saja.” Kata Winter, Jaemin mengangkat alisnya bingung.

“Kalau begitu marah saja.”

“Aku tidak bisa marah padamu.”

“Kalau begitu pukul aku saja.”

“Aku bahkan tidak bisa marah padamu, lalu apakah kau pikir aku bisa memukulmu?”

“Kalau begitu biar aku yang melakukannya.” Kata Winter.

Winter pun memukul kaki Jaemin kuat. Jaemin melotot, Winter tersenyum.

“Apakah kau tahu? Akhir-akhir ini pikiranku cukup kacau karena aku mengalami beberapa masalah. Karena itu aku ingin sekali memukul orang.”

“Salah satu masalah itu adalah kau, karena itu aku memukulmu.” Kata Winter.

“Kenapa aku menjadi masalah untukmu?” kata Jaemin kebingungan.

“Karena kau membuatku tidak tenang. Kau selalu menunjukkan raut wajah sedih, raut wajah untuk dikasihani, dan raut wajah untuk diperhatikan.” Kata Winter jujur.

Jaemin pun menghela nafasnya pelan lalu memfokuskan pandangannya pada Winter.

“Kalau begitu apakah aku boleh memukulmu?” tanya Jaemin, Winter sedikit terkejut.

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang