"selamat pagi semuanya, perkenalkan namaku... Jeno Choi."
Dengan cepat Karina pun melihat murid pindahan itu. Karina melotot terkejut diikuti dengan murid pindahan yang bernama Jeno Choi itu melihat kearahnya.
"tidak bisa dipercaya." Kata Karina pelan.
Jeno melihat Karina diikuti senyum sinis di bibirnya membuat Karina menatapnya dengan tatapan jengkel.
"apa itu? senyumnya terlihat sangat mengerikan." Kata Karina didalam hati.
"baiklah, Ibu harap kalian bisa cepat akrab dengan Jeno." Kata ibu guru melihat ke seluruh isi kelas.
"baik bu." Jawab para murid serentak, terkecuali Karina.
"baiklah, Jeno. Kau bisa duduk dikursi kosong di belakang sana." Kata ibu guru menunjuk kursi kosong disamping Ryujin.
Jeno melihat kearah yang ditunjuk oleh ibu guru lalu menggeleng pelan.
"tidak, aku tidak ingin duduk disitu bu." Kata Jeno membuat seisi kelas melihatnya, termasuk Karina.
"aku ingin duduk disitu." Kata Jeno lagi sambil menunjuk kursi kosong disebelah Karina.
Karina tersentak terkejut.
"sebenarnya kursi itu sengaja untuk dikosongkan, karena Karina adalah murid terbaik disekolah ini. Karena itu dia sengaja duduk sendiri agar tidak ada yang menggangu konsentrasi belajarnya. Dan juga itu adalah permintaan dari Karina sendiri." Kata Ibu guru menjelaskan.
"tidak perlu khawatir bu. Aku akan memastikan dia tidak terganggu sedikit pun. Aku janji bu." Kata Jeno diikuti senyum di bibirnya membuat ibu guru luluh.
"tidak. tidak boleh. Tolong jangan biarkan dia duduk disampingku bu. Karena itu, aku pasti tidak akan bisa fokus sepanjang pelajaran." Kata Karina tidak terima didalam hatinya.
"sepertinya kau sangat yakin bisa memenuhi janjimu itu, kenapa?" kata Ibu penasaran.
"jangan bertanya lagi bu, katakan saja tidak boleh! Aku bahkan tidak menerima dia sebagai teman sebangku, lalu bagaimana aku bisa menerimanya sebagai suamiku?" kata Karina didalam hatinya lagi.
"iya aku yakin bu... karena aku adalah calon suaminya." Kata Jeno tersenyum.
"what the hell?!" Teriak Karina didalam hati.
Secara otomatis seluruh orang yang ada didalam kelas pun melihat kearah Karina.
-----
Karina dan Jeno berdiri berhadapan di rooftop sekolah. Karina melihat Jeno dengan tatapan tajam sedangkan Jeno melihat Karina dengan tatapan datar.
Setelah bel istirahat pertama berbunyi, dengan cepat Karina menarik Jeno untuk pergi sebelum orang-orang dikelasnya datang menghampirinya untuk menanyakan kebenaran tentang perkataan yang dikatakan oleh Jeno tanpa seizinnya terlebih dahulu.
"apa tujuanmu berkata seperti itu didepan kelas?" Tanya Karina kesal.
"tidak ada tujuan apa-apa." kata Jeno datar.
"lalu kenapa dari banyaknya kalimat, kau harus mengatakan itu?" kata Karina tidak terima.
"apa salahnya? Cepat atau lambat mereka juga pasti akan tahu." Kata Jeno.
"tidak... kenapa kau harus mengatakan sesuatu yang belum tentu terjadi?" kata Karina semakin kesal.
"siapa yang bilang kalau itu tidak akan terjadi? Tanggalnya sudah ditentukan." Kata Jeno.
"persetanan dengan tanggal." Kata Karina melihat kearah lain.
"cara berbicaramu sangat berbeda dengan penampilanmu." Kata Jeno melihat Karina dengan seksama.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fanfiction📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
