45

74 3 1
                                        

Jaemin sampai di rumahnya. Dia segera pergi ke ruang tamu, yang dimana kedua orang tuanya sudah berada di sana beserta dengan tiga tamu undangan yang Jaemin tidak mengenalnya.

"Duduklah." Kata ibu Jaemin.

Jaemin mengangguk lalu segera duduk di samping ibunya. Jaemin melihat bingung kepada sepasang kekasih paruh baya dan juga seorang gadis yang Jaemin rasa adalah anak dari pasangan suami istri itu.

"Perkenalkan ini adalah rekan kerja ayah dan ibu." Kata ayah Jaemin memperkenalkan.

"Salam kenal paman dan bibi, saya Na Jaemin." Kata Jaemin sopan.

"Salam kenal juga nak." Kata paman itu.

"Oh iya perkenalkan ini anak kami." Kata bibi itu memperkenalkan anaknya.

Gadis itu segera mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri kepada Jaemin. Jaemin pun ikut membalas uluran tangan gadis itu.

"Perkenalkan namaku Kim Minju, salam kenal Jaemin." Kata gadis yang bernama Minju itu sambil tersenyum manis.

"Salam kenal juga Minju." Kata Jaemin ikut tersenyum.

"Kau dan Minju itu seumuran. Karena itu jangan sungkan untuk mencoba akrab dengan Minju ya." Kata bibi itu.

"Dari mana bibi ini bisa tahu kalau kami seumuran? Memangnya dia tahu aku kelahiran tahun berapa? Padahal rasanya baru kali ini kami bertemu." Kata Jaemin di dalam hatinya.

"Mungkin saja ibu yang memberitahunya." Kata Jaemin berusaha untuk berpikir positif.

"Cobalah kalian belajar untuk akrab satu sama lain sebagai teman dulu sebelum menjalani hubungan yang lebih serius." Kata ibu Jaemin.

"Iya benar, saja juga setuju. Kalian tidak perlu terburu-buru." Kata bibi itu menambahi.

"Apa? Apa maksud perkataan ibu dan bibi?" tanya Jaemin bingung.

"Iya? Apakah nak Jaemin belum tahu tentang perjodohannya dengan anak kami?" kata paman itu.

"Perjodohan?" kata Jaemin terkejut.

"Iya, karena itulah kami datang untuk membicarakan perjodohan itu." Kata bibi itu.

Jaemin melihat ayah dan ibunya tidak percaya. Ada perasaan kesal, marah dan bahkan perasaan kecewa pada diri Jaemin saat ini.

"Maaf paman dan bibi. Tapi aku cukup merasa lelah dan ingin pergi beristirahat dulu." Kata Jaemin lalu bangkit berdiri membuat semua orang yang ada disana melihatnya bingung.

"Lalu terkait perjodohan itu aku tidak pernah mendengarnya sedikit pun. Aku akan anggap tidak tahu apa-apa tentang itu. Aku juga tidak tertarik dengan perjodohan." Kata Jaemin membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan respon Jaemin.

"Jaemin!" panggil ibu Jaemin agar Jaemin menghentikan berbicara.

"Maafkan aku, aku permisi." Kata Jaemin menundukkan badannya sopan lalu beranjak pergi dari situ.

Setelah kepergian Jaemin, ayah Jaemin pun ikut berdiri.

"Maafkan kami. Tapi kami ingin pergi sebentar untuk menghampiri anak kami." Kata ayah Jaemin.

"Silahkan menikmati cemilan yang telah kami sediakan sambil menunggu kami berbicara sebentar dengan anak kami." Kata ibu Jaemin.

Ayah dan ibu Jaemin pun segera pergi meninggalkan mereka.

"Ada apa ini? Kenapa mereka tidak mengatakan kepada anak mereka kalau dia telah di jodohkan dengan anak kita?" kata paman itu.

"Aku rasa rumor bahwa keluarga mereka kurang harmonis memang benar, buktinya mereka kurang berkomunikasi." Kata bibi itu.

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang