Karina dan Jeno sampai di depan apartemen Winter. Karina segera turun dari sepeda motor Jeno dan memberikan helm yang dipakainya pada Jeno.
"Aku akan menunggumu." Kata Jeno.
"Tidak kau pulang saja. Sepertinya aku akan cukup lama berada di rumah Winter, hati-hati." Kata Karina.
"Iya, bantu Winter dengan baik juga." Kata Jeno sambil mengelus kepala Karina lembut.
Karina pun segera pergi menuju apartemen Winter. Tanpa menekan bel terlebih dahulu, Karina segera memasukkan nomor PIN apartemen Winter karena memang dia mengetahui PIN apartemen Winter.
"Winter! Kau ada dimana?" teriak Karina setibanya di dalam apartemen Winter.
"Winter!" teriak Karina saat melihat Winter duduk di dekat sofa.
Karina menghampiri Winter yang saat ini sedang duduk dan menatap kosong ke depan.
"Winter kau kenapa?" tanya Karina.
"Winter?" tanya Karina mulai khawatir karena Winter tidak ada respon sedikit pun, bahkan tatapannya masih kosong.
"Winter aku disini." kata Karina dengan suara pelan sambil menyentuh tangan Winter.
Tersadar akan sentuhan itu, Winter melihat Karina.
"Kau baik-baik saja?" tanya Karina, secara perlahan air mata memenuhi kelopak mata Winter.
"Aku tidak baik-baik saja." Kata Winter bersamaan dengan air matanya yang mengair deras.
"Aku tidak baik-baik saja." Kata Winter lagi.
"Karina aku harus bagaimana?" kata Winter dengan isakan tangisnya.
Karina memeluk Winter. Tidak disangka Winter menangis kuat di dalam pelukannnya.
"Aku tidak sanggup lagi." Kata Winter.
Suara tangis Winter memenuhi tempat tinggal Winter saat itu. Karina menepuk punggung Winter seakan dengan itu dia dapat menghibur Winter saat ini.
Tak berapa lama Winter sudah merasa lebih baik, terlihat dari air matanya yang tidak mengalir lagi. Karina melepas pelukannya lalu menatap kedua mata Winter yang sembab.
Winter membalas tatapan Karina. Bisa terlihat tatapan khawatir di kedua mata Karina dan tatapan putus asa di kedua mata Winter.
Seakan tahu kondisi yang dialami oleh Winter hanya dengan menatap matanya saja, Karina membuang nafas pelan.
"Sudah kukatakan, pikiranmu saja yang berpikir kalau kau sudah melupakannya tapi tidak dengan hatimu. Lihatlah apa yang terjadi padamu saat ini." kata Karina.
"Tidak..." kata Winter terpotong akan perkataan Karina.
"Apanya yang tidak? Apakah aku salah?!" kata Karina sedikit menaikkan nada suara tapi bukan berarti Karina marah kepada Winter.
Winter menghembuskan nafasnya pelan lalu menundukkan kepalanya. Karena memang tidak ada yang salah dari yang dikatakan oleh Karina.
"Benar juga." Kata Winter lemah.
"Aku pikir aku sudah baik-baik saja jika mengabaikannya begitu saja. Tapi aku tidak tahu jika aku akan merasakan lebih sakit seperti ini." kata Winter dengan nada yang sama.
Karina pun melihat ke arah lain untuk menenangkan dirinya. Jujur dia merasa sangat sedih melihat kondisi Winter saat ini. Dia tahu bahwa Winter adalah orang yang kurang terbuka dikarenakan dia tidak ingin masalahnya menjadi beban buat orang lain juga.
Tapi selama ini Karina teap berusaha dengan baik untuk menyesuaikan diri dengan Winter. Karena Karina tahu kalau Winter juga akan berbicara jika dia rasa sudah tepat waktunya untuk dia menceritakannya seperti saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fiksi Penggemar📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
