42

89 2 3
                                        

"Jika kau tidak bisa jujur padaku, aku akan menyerah terhadapmu."

Perkataan Karina tadi masih mengusik pikiran Jeno sampai saat ini. Jeno sedang duduk sendirian di pinggir lapangan sekolah sambil memikirkan perkataan Karina tadi, dia merasa sangat resah.

"Kenapa wajahmu muram seperti itu?" tanya Mark yang tiba-tiba datang menghampirinya.

"Bukan apa-apa." kata Jeno tanpa melihat Mark.

"Siapa pun akan tahu kalau pikiran mu sedang terganggu." Kata Mark dengan senyum tipisnya.

Jeno membuang nafas panjang.

"Apakah wanita pada umumnya akan marah jika kita tidak terbuka kepadanya?" tanya Jeno.

"Bukan hanya wanita, tapi semua orang yang sudah menganggap bahwa dirimu itu penting." Kata Mark, Jeno menoleh.

"Jika seseorang menganggap mu penting pasti dia ingin tahu segalanya tentangmu. Hal ini bukan hal yang aneh, karena hal itu wajar dilakukan oleh seseorang yang ingin mengenalmu lebih lagi agar bisa membangun hubungan yang lebih intim lagi." Kata Mark lagi.

"Maupun itu adalah hal yang tidak baik sekali pun?" tanya Jeno.

"Iya. Jika dia memang tulus padamu, maka dia tidak akan mempermasalahkan apapun dan menerima segala kekuranganmu." Kata Mark cukup untuk menyadarkan Jeno.

"Jika memang seperti itu, berarti aku sudah sangat mengecewakannya." Kata Jeno.

"Siapa? Karina?" tanya Mark, Jeno mengangguk pelan.

"Kau seharusnya berterima kasih padanya. Karina yang aku tahu tidak terlalu tertarik dengan urusan orang yang baru dikenalnya. Biasanya orang lain yang ingin lebih berusaha untuk mengenalnya." Kata Mark membuat Jeno memfokuskan pandangannya pada Mark.

"Bahkan untuk kami orang-orang yang bisa dikatakan cukup lama berteman dengannya, terkadang dia masih mengabaikan kami dengan alasan yang aneh, yaitu karena membuat jam belajar lebih banyak." Kata Mark dengan kekehan di akhir kalimatnya, Jeno tersenyum tipis.

"Perlakukan dia dengan baik. Dia memiliki hati yang lembut." Kata Mark.

Jeno pun tampak menimangi setiap perkataan yang diucapkan oleh Mark.

"Baiklah, terima kasih untuk nasihatnya. Sepertinya aku harus segera pergi untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tidak pernikahan kami akan dibatalkan." Kata Jeno tersenyum jahil, Mark tertawa lepas.

"Semoga berhasil." Kata Mark mengantarkan kepergian Jeno.

-----

Winter dan Jaemin sedang makan bersama di kantin. Mereka memesan menu masing-masing akan tetapi mereka memakannya bersama melihat bagaimana mereka berbagi makanan.

"Carbonara ini terlalu berminyak." Kata Winter melihat pesanan yang dipesannya.

"Biasanya kau juga tidak pernah membelinya karena kurang suka dengan jenis mienya." Kata Jaemin.

"Benar juga, tapi entah kenapa tiba-tiba aku ingin makan mie." Kata Winter.

"Kau bisa meminta ku untuk memasak mie untuk mu, seperti dulu." Kata Jaemin, Winter tersenyum.

"Benar juga, ramyeon buatanmu adalah ramyeon terenak yang pernah aku makan sampai hari ini." kata Winter, Jaemin tersenyum bangga.

"Sepertinya aku harus mencari seseorang yang pintar memasak mie sebagai teman hidup." Kata Winter asal.

"Kau mau hidup sakit-sakitan?" kata Jaemin.

"Sakit-sakitan pun jika bisa menikmati waktu bersama orang yang aku cintai pun tidak apa." kata Winter asal.

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang