Karina pov.
"Berbaring." Kata Jeno padaku.
"Apa?" kataku pada Jeno, akan tetapi pikiranku sudah mulai memikirkan hal lain.
"Kenapa aku harus berbaring?" kataku lagi padanya bingung tapi sekaligus berhati-hati.
"Apa kegunaan dari tempat tidur?" Tanya Jeno padaku.
"Tempat berbaring, tidur dan beristirahat." Kataku berusaha membawa pembicaraan kami tetap aman.
"Karena itu berbaringlah." Katanya sambil membaringkan ku diatas tempat tidur dan dia ikut menimpaku, walaupun tubuh kami tidak bersentuhan karena ditahan oleh kedua tangan kekarnya.
"Tunggu! Apa yang mau kau lakukan?!" kataku khawatir.
"Aku? Bukan aku. Katamu kau mau bertanggung jawab. Karena itu bukan aku yang melakukannya, tapi kau." Katanya tersenyum penuh arti membuatku semakin khawatir.
Aku berusaha untuk melakukan banyak cara agar dia segera melepaskan ku. Keadaan dan posisi kami saat ini membuatku memikirkan banyak hal yang buruk. Ditambah saat dia memainkan poni dan mengelus pipiku sempat membuatku terlena akan perbuatannya yang hangat itu.
"Lakukanlah tanggung jawabmu." Kata Jeno sambil membuat jarak di antara kami semakin dekat.
Aku meminta bentuk pertanggung jawaban yang lain padanya, akan tetapi jawabannya membuatku semakin khawatir. Aku bahkan sempat melawannya, akan tetapi perlawananku membuatnya semakin tak terkendali.
"Kalau begitu biar aku yang memulainya." Kata Jeno lalu mencium bibirku.
Aku melotot terkejut. Beberapa kali aku ingin menghindar, dia semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya aku mendapatkan peringatan.
"Karina..." katanya pelan, Aku melihat Jeno.
"Kenapa kau nakal sekali?" kata Jeno lagi.
"Jika kau bertindak diluar tanggung jawab, aku akan segera mengambil ahli tanggung jawab itu sepenuhnya." Katanya serius.
"Gawat." Kataku dalam hati.
Dia kembali melumat bibirku dengan lembut, aku hanya terdiam menerima perlakuannya dengan penuh rasa khawatir. Bisa kulihat dia sedikit tersenyum ditengah kegiatannya itu, terlihat juga dari matanya yang menampakkan kebahagiaan bahkan saat tertutup sekalipun.
Kenapa dia sangat ahli? Pikirku dalam hati. Aku terbuai dan mulai menenangkan diri walaupun jantungku tidak bisa tenang sejak saat Jeno menyuruhku untuk berbaring.
Apakah bisa kukatakan kalau aku beruntung? Saat aku mendengar suara panggilan ayah Jeno dari ruang tamu disaat aku mulai menikmati perbuatan Jeno padaku.
"Untunglah! Paman sudah pulang." kata ku dalam hati.
"Jeno..." kataku mendorong tubuh Jeno menjauh.
"Paman sudah pulang." kataku.
"Lalu kenapa?" kata Jeno ingin mencium ku lagi.
"Jika paman melihat ini, apa yang akan dikatakan oleh paman? Bisa-bisa kartu kreditmu akan diblokir semakin lama." Kataku padanya.
"Tidak apa jika hanya kartuku yang diblokir." Kata Jeno tersenyum lalu berusaha ingin menciumku lagi.
"Yak!" teriakku padanya, dia tersentak terkejut.
"Jika paman melihat keadaan kita sekarang, aku akan langsung membatalkan pernikahan kita!" kataku padanya.
Jeno pun mulai menunjukkan wajah cemberutnya.
"Jeno apakah kau ada di dalam kamar?" terdengar suara ayah Jeno di depan pintu, aku melotot terkejut.
Aku mendorong tubuh Jeno kuat lalu bangun dari tempat tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fiksi Penggemar📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
