Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karina menatap ke arah laut yang sangat tenang. Jujur Karina tidak bosan melihat pemandangan laut di hadapannya saat ini walaupun sudah berdiri disana selama 20 menit.
"Sepertinya aku tidak boleh sering-sering membawamu ke tempat ini." Kata Jeno.
Karina membalikkan badannya melihat Jeno. Karina tercekat saat melihat Jeno yang datang dengan baju mandi.
"K-kenapa?" Kata Karina gugup karena itu.
"Karena kau lebih fokus pada pemandangan disini daripada aku." Kata Jeno sambil berjalan pelan menghampiri Karina.
Karina memperhatikan gerak-gerik Jeno yang saat ini sedang berjalan menghampirinya. Tampak gagah dan sangat menarik perhatian Karina. Tapi Karina tetap dalam mode siaga.
"Tapi pemandangannya akan sangat disayangkan jika dibiarkan begitu saja. Kita juga tidak bisa selalu datang ke tempat ini setiap saat." Kata Karina sambil mengatasi kegugupannya pada Jeno yang sudah berdiri di depannya.
"Lalu?" Kata Jeno sambil menaikkan sebelah alisnya karena belum puas akan jawaban Karina.
"Maksudku pemandangan di tempat ini tidak bisa kulihat setiap hari, sedangkan kau bisa kulihat setiap hari." Kata Karina semakin tenang.
Jeno memiringkan kepalanya sedikit lalu menatap Karina lekat. Karina mengerutkan kening bingung.
"Kenapa?" Tanya Karina.
"Memang benar, tapi kau tidak bisa melihatku dengan penampilan seperti ini sepanjang hari." Kata Jeno sambil melonggarkan sedikit baju mandi di bagian lehernya.
Karina yang melihat itu pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, Jeno tersenyum senang. Jeno meletakkan tangannya di puncak kepala Karina lalu mengelusnya pelan, Karina melihat Jeno dengan perlahan.
"Kenapa? Kau gugup?" Tanya Jeno dengan senyuman jahil khas miliknya, Karina mendengus kesal.
"Apakah kau harus bertanya lagi?" Kata Karina dengan nada jengkelnya, Jeno terkekeh pelan.
Dalam diam, Jeno tetap setia mengelus puncak kepala Karina pelan.
"Cara terbaik untuk menghilangkan rasa gugup adalah?" Tanya Jeno.
Mendengar perkataan Jeno membuat Karina secara otomatis tersenyum. Karina teringat akan teknik yang diajarkan oleh Jeno saat mereka memutuskan untuk mempertahankan hubungan mereka.
Karina masih ingat dengan sangat jelas hari itu. Hari dimana Jeno mengerjainya habis-habisan. Jeno mencari kesempatan pada dirinya yang masih sangat polos soal percintaan. Tapi tidak bisa Karina pungkiri kalau itu justru menjadi daya tarik dari Jeno.
Terbesit pikiran tidak ingin dipermainkan oleh Jeno lagi untuk kali ini, Karina melihat Jeno lekat.
"Peluk aku." Kata Karina, Jeno mengangkat alisnya bingung akan tanggapan Karina yang tiba-tiba dan seperti tidak biasanya.
"Peluk aku, supaya aku bisa tersenyum." Kata Karina.
Jeno pun tersenyum tipis lalu membawa Karina ke dalam pelukannya. Jeno sadar kalau saat ini Karina sedang berusaha untuk menghindari aksi yang mau dilakukannya pada Karina.
"Padahal aku bisa menciummu." Kata Jeno dengan santai.
Karina pun mencubit pinggang Jeno sehingga memberikan sensasi geli pada Jeno.
"Jangan lakukan itu." Kata Jeno
"Siapa suruh kau berbicara seperti itu!" Kata Karina.
"Bukankah lebih baik menciummu saja daripada hanya memelukmu saja? Aku yakin bisa melakukannya dengan baik." Kata Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fanfiction📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
