Karina menghirup udara segar. Sudah lama sejak Karina tidak merasakan tenangnya pagi hari ini. Semalam Karina dan Jeno menginap di villa milik keluarga Jeno. Mereka memilih untuk menginap karena hari ini mereka tidak masuk sekolah, bertepatan dengan hari weekend.
Tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Setelah kejadian tadi malam yang bisa dikatakan cukup menakutkan bagi Karina, untungnya pekerja villa segera datang menghampiri mereka sebelum Jeno bertindak lebih jauh.
Karina tercekat ketika sebuah tangan memeluknya dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping miliknya. Karina tahu siapa orang itu hanya dengan mencium aroma tubuhnya saja.
"Kau tahu kalau itu tidak akan masuk akal jika kau melakukan sesuatu padaku di pagi hari ini kan?" kata Karina hati-hati.
"Aku juga bukan orang yang senekad itu." kata Jeno sambil menyamankan kepalanya di bahu Karina.
Karina pun merasa tenang mendengar jawaban Jeno.
"Kau tidur dengan nyenyak?" tanya Karina masih dengan posisi yang sama.
"Tidak." kata Jeno.
"Kenapa?" tanya Karina.
"Karena kau tidak menemaniku untuk tidur." Kata Jeno santai, Karina melotot tajam pada Jeno.
"Kenapa aku harus menemanimu? Kita bahkan belum menikah." Protes Karina.
"Kalau begitu mari segera menikah!" kata Jeno sambil melihat Karina.
"Kau pikir menikah itu adalah hal yang mudah?" kata Karina.
"Kita hanya menikah saja. Kita tidak perlu bertindak seperti orang yang sudah menikah, seperti tinggal bersama dan lain-lainnya." Kata Jeno, Karina mengerutkan keningnya karena tidak suka akan jawaban Jeno.
"Apa maksudmu?" tanya Karina sambil melepaskan pelukan Jeno pada pinggangnya lalu memberi jarak di antara mereka.
"Kita tidak harus bersikap layaknya suami istri." Kata Jeno, Karina membuang nafas pelan.
"Jeno, menurutmu kenapa orang lain berpikir untuk menikah?" tanya Karina.
"Karena ingin membangun sebuah keluarga baru." Kata Jeno, Karina mengangguk.
"Benar, kalau begitu kau juga tahu apa arti dari keluarga." Kata Karina.
Jeno melihat Karina dalam diam.
"Keluarga itu bukan hanya sekedar hidup terikat dalam hubungan secara hukum dan agama, tapi terikat dalam tanggungjawab bersama juga. Keluarga itu harus berbagi tempat tinggal bersama, berbagi sukacita dan dukacita bersama, berbagi kepedulian dan saling menolong, dan berbagai kasih sayang yang sama." Kata Karina mengatakan pandangannya.
"Jika tidak bisa berbagi kasih sayang dan saling menolong, untuk apa menikah?" kata Karina dengan nada ketusnya.
Melihat itu Jeno pun tersenyum dan perlahan mulai tertawa.
"Kau masih bisa tertawa?" kata Karina karena kesal melihat respon Jeno.
Jeno pun menenangkan dirinya lalu melihat Karina lekat.
"Aku ingin mendahulukan kebahagiaanmu daripada kebahagiaanku." Kata Jeno membuat Karina mengerutkan keningnya bingung.
"Kau benar kalau menikah bukanlah hal yang mudah, aku tahu itu." Kata Jeno.
"Lalu kenapa mengajakku untuk cepat menikah jika kau tahu tanggungjawab itu?" kata Karina.
"Karena aku tidak ingin memberikan orang lain peluang untuk mendekatimu." Kata Jeno serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Message To Reality
Fiksi Penggemar📌 Follow dulu sebelum baca 😊 Masa depan! Adalah hal yang selalu dipikirkan oleh Karina. Masa depan yang cerah akan menantinya karena itulah dia bekerja keras di dalam belajar, dan moto 'usaha tidak akan mengecewakan hasil' adalah pegangannya. Ungg...
