37

75 5 6
                                        

Karina berterimakasih pada bel sekolah mereka. Pasalnya dengan berbunyinya bel itu maka dia bisa segera menghindari suara teman-temannya yang keluar begitu riuhnya saat dengan mudahnya Jeno mengucapkan kata-kata itu.

Karina mencoba fokus pada ibu Jung yang sedang menjelaskan mata pelajaran fisika. Akan tetapi tidak fokus seperti biasanya, Karina pun larut dalam pikirannya.

"... jelas-jelas kau itu kan punyaku."

Karina kembali teringat akan perkataan Jeno tadi. Dengan perlahan Karina pun melihat Jeno yang duduk di sebelahnya. Karina pun segera melihat ke depan saat kedua matanya bertemu dengan kedua mata milik Jeno.

Jeno menyenggol lengan Karina yang berada diatas meja menggunakan lengannya. Karina menoleh.

"Ada apa?" tanya Jeno dengan suara kecil.

"Tidak ada apa-apa." Kata Karina dengan nada suara yang sama sambil tersenyum canggung, Jeno mengangguk.

"Nanti pas istirahat ingin makan apa?" tanya Jeno.

"Entahlah, belum kepikiran sama sekali." Balas Karina.

"Baiklah, nanti kita lihat di sana saja." Kata Jeno, Karina mengangguk.

"Lalu, nanti pastikan kau harus duduk di sebelahku." Kata Jeno lagi.

"Kenapa?" tanya Karina.

"Untuk menjaga kau dari orang lain."

"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagian kan kita hanya pergi ke kantin saja." Kata Karina.

"Justru karena ke kantin makanya berbahaya."

"Berbahaya apanya?"

"Kau akan duduk berdekatan dengan teman-teman priamu." Kata Jeno, Karina pun tersenyum tipis.

Akhirnya dia mengerti akan perkataan Jeno yang cukup berbelit itu.

"Jangan bilang kau cemburu." Kata Karina.

"Tidak... hanya saja aku tidak suka kau lebih dekat dengan mereka." kata Jeno.

"Jelas sekali kalau dia cemburu. Katanya dia pernah pacaran, kenapa dia tidak tahu bagaimana rasanya cemburu. Kalau begitu akan aku goda lagi." Kata Karina di dalam hatinya.

"Tidak mau." Tolak Karina.

"Kalau begitu tidak ada namanya pergi ke kantin saat jam istirahat."

"Bagaimana jika aku lapar?"

"Aku bisa membelikannya untukmu."

"Memangnya kau tahu apa yang aku inginkan?"

"Kau tinggal katakan saja."

"Aku tidak mau mengatakannya."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin pergi ke kantin secara langsung."

"Kalau begitu duduk lah di dekatku."

"Tidak mau."

Jeno membuang nafasnya pelan.

"Kenapa kau tidak mau menurut saja?" Kata Jeno serius, Karina mengatupkan mulutnya rapat lalu mengangkat bahunya.

"Kalau begitu pilihan. Kita pergi, tapi kau harus duduk di sampingku atau tidak pergi ke kantin sama sekali." Kata Jeno.

"Apa itu? Tidak adil sama sekali."

"Apanya yang tidak adil? Aku berhak membuat sebuah keputusan untukmu." Kata Jeno.

"Kenapa?"

"Sudah kukatakan kau kan punyaku." Kata Jeno, Karina terdiam.

"Gugup?" tanya Jeno.

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang