52

25 3 0
                                        

Tak terasa hari sudah malam. Winter bersama rombonganya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan cafe itu hingga menyisahkan Winter, Jaemin, Ryujin, dan Haechan.

"Tumben sekali kau ingin pulang bersamaku. Biasanya kau akan langsung menolak." Kata Haechan pada Ryujin.

"Aku ingin irit, uang sakuku semakin menipis." Kata Ryujin santai.

"Kau datang saat butuh saja." Kata Haechan lalu memberi helm pada Ryujin dan langsung diterima oleh Ryujin.

"Kalau begitu kami pulang lebih dulu." Kata Haechan pada Winter dan Jaemin.

Haechan dan Ryujin pun pergi meninggalkan Winter dan Jaemin.

"Seharusnya Ryujin melakukan itu lebih awal." Kata Winter.

"Apanya?" Tanya Jaemin.

"Pulang bersama dengan Haechan. Dengan begitu dia bisa lebih irit dan bisa membeli barang kesukaannya dengan lebih cepat." Kata Winter.

"Maksudmu seharusnya Ryujin memperalat Haechan lebih cepat." Kata Jaemin dengan senyum puasnya karena berhasil mengetahui niat perkataan Winter.

"Kau cerdas juga." Kata Winter dengan senyuman di bibirnya.

"Aku mahir untuk hal itu." Kata Jaemin bangga.

"Akan hal apa?" Tanya Winter.

Jaemin terdiam sebentar sambil menatap Winter, atau lebih tepatnya menatap kedua mata indah milik Winter.

Winter mengangkat sebelah alisnya karena bingung. Jaemin tersenyum tipis.

"Memahamimu." Kata Jaemin lembut, Winter menatap Jaemin dalam.

"Aku mahir di dalam memahamimu." Kata Jaemin lagi, Winter tersenyum tipis.

"Kau yang akan menggigit jari jika sedang khawatir."

"Bagaimana kau tahu?" Kata Winter terkejut, Jaemin membalas dengan senyuman.

"Kau yang akan berdiam diri jika sedang marah."

"Aku rasa wanita lain akan seperti itu juga." Kata Winter, Jaemin terkekeh.

"Kau yang akan cerewet jika sedang kesal."

"Aku? Aku tidak ada!" Elak Winter, Jaemin mencubit pipi Winter pelan.

"Kau yang akan tiduran saja jika sedang lelah dengan semua yang terjadi."

"Benar juga." Kata Winter, Jaemin tersenyum lepas.

"Kau yang akan berpura-pura cuek jika sedang tersipu."

"Aku tidak melakukan itu!" Elak Winter, Jaemin meletakkan kedua tangannya ke atas kepala Winter lalu mengelusnya pelan.

"Dan kau akan melukai diri sendiri demi kebaikan orang lain." Kata Jaemin serius, Winter terdiam.

"Berjanjilah padaku." Kata Jaemin.

"Berjanji untuk apa?" Tanya Winter.

"Jangan pernah melarikan diri lagi. Tidak, bahkan jangan pernah berpikir untuk melarikan diri lagi. Terutama melarikan diri demi kebaikanku." Kata Jaemin.

Winter terdiam mencerna perkataan Jaemin.

"Bagaimana jika semua orang yang ada di sekeliling mu memintaku untuk melakukannya?" Tanya Winter.

Jaemin membuang nafasya pelan lalu membawa Winter ke dalam pelukannya. Sempat terkejut akan itu, Winter berusaha untuk menenangkan dirinya tanpa membalas pelukan Jaemin.

"Aku tahu kalau kau mengetahui apa yang akan kukatakan selanjutnya." Kata Jaemin.

"Aku tidak tahu." Kata Winter singkat.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang