34

60 6 0
                                        

Karina, Jeno, Jisung, ayah dan ibu sedang duduk bersama karena baru saja selesai sarapan. Terlihat suasana diantara mereka semakin menghangat. Terutama pada Karina yang terkadang membalas perkataan Jeno dengan akrab.

Seperti yang sudah diputuskan oleh Karina semalam. Dia akan kembali mencoba untuk membuka kembali hatinya pada Jeno dengan berani. Dan juga membantu Jeno seperti yang diinginkan oleh Jeno.

"Tidak bisa ku percaya! Apakah benar kita akan kembali hari ini?" kata Jisung.

"Benar juga, aku masih ingin liburan. Aku bahkan belum masuk ke dalam air laut untuk bermain air." Kata Karina.

"Kau sudah masuk. Saat menyelamatkan anak itu." kata Jeno.

"Itu berbeda. Saat itu mau tidak mau aku harus masuk karena harus menyelamatkan anak itu. Yang aku butuhkan saat ini, aku ingin masuk atas kemauanku sendiri." kata Karina.

"Tapi, syukurlah anak itu bisa selamat." Kata ibu lega.

Saat kembali semalam, ibu dan ayah menanyakan tentang Karina yang datang dengan keadaan basah. Karina pun menceritakan kejadiannya, karena itulah mereka tahu cerita tentang Karina yang telah menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam.

"Saat aku melihat anak itu akan tenggelam, aku teringat akan diriku yang pernah hampir tenggelam dulu. Karena itu tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam air." Kata Karina.

Jeno melihat Karina dengan tatapan sedikit terkejut. Terkejut akan cerita yang belum pernah didengar sebelumnya.

"Kalau ayah kembali mengingat kejadian itu, hati ayah sangat sakit. Ayah bahkan tidak bisa menolong mu karena kaki ayah sedang terluka saat itu." kata ayah.

"Setelah aku keluar dari dalam air, melihat ayah yang khawatir saja membuatku sangat bersyukur." Kata Karina tersenyum pada ayahnya.

"Untung saja ada yang menyelamatkanmu tepat sebelum kau benar-benar tenggelam." Kata Jisung.

"Karena kejadian itu, kita bahkan tidak pernah pergi ke pantai lagi. Sampai kalian bisa berenang." Kata ibu.

"Benar, karena itu selama liburan musim panas aku selalu saja berfoto dengan latar belakang pegunungan, benar-benar membosankan." Kata Jisung.

"Tapi kali ini tidak." kata ibu.

"Jangan sampai!" kata Jisung.

"Setelah ini, foto kan aku." Kata Jisung pada Karina.

"Tidak mau, aku mau bermain air." Kata Karina.

"Dengan membantuku, tidak akan membuatmu rugi." Kata Jisung santai.

"Memang tidak, tapi kau itu adalah model gadungan." Kata Karina.

"Apa? Gadungan?" kata Jisung tidak terima.

"Jika aku memfoto mu, kau tidak akan cukup dengan satu foto saja. Aku harus mengambil 100 foto untuk persatu pakaian mu. Model saja sepertinya tidak mengambil gambar sebanyak itu." kata Karina, Jeno tertawa.

"Hyung, kau tertawa? Kalau begitu kau harus mengambil fotoku." Kata Jisung.

"Jangan mau." Kata Karina, Jeno pun menggeleng.

"Hyung! Apakah kau lupa akan jasa yang telah kuberikan padamu?" protes Jisung.

"Jasa apa?" tanya Karina.

"Tidak ada apa-apa." kata Jeno dengan senyum kikuknya.

Jeno merasa dia akan benar-benar kehilangan harga dirinya jika Karina mengetahui bantuan apa yang diberikan oleh Jisung. Mengingat kalau harga dirinya sudah cukup terluka karena sudah menangis dihadapan Karina semalam. Memalukan sekali pikir Jeno.

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang