☆
🍁🍁🍁🍁🍁
Sora berlari tak tentu arah, yang dipirkannya kali ini ialah sembunyi sebaik mungkin supaya Ivander tidak menemukannya.
"Amour! Aku datang!" Teriak Ivander menggema di lorong yang telah Sora lalui.
Sora meringis, air mata dan keringatnya bercucuran secara bersamaan. Rumah megah ini begitu sepi, hawa dingin seakan menusuknya. Sora menatap silet yang melukai dirinya, ia meringis kala menggenggamnya terlalu kuat, mengakibatkan kulit telapak tangannya robek dan tergores.
Sora celingkukan, menggigit kuku-kukunya gusar. Apa aku akan mati disini? Sora tidak mau dirinya mati kehabisan darah ataupun dibunuh. Ia melihat pintu lebar di ujung.
Kakinya berlari, berusaha tidak menimbulkan suara sebaik mungkin. Sora menarik pintu tersebut, namun nyatanya pintu tersebut tidak bisa dibuka, Sora meraba, bagaimana cara membuka pintu ini.
Tangan bergetarnya memegang knop pintu, Sora menggesernya ke arah jam sembilan. Ternyata cara kerja pintu tersebut digeser ke samping, bukan ditarik.
"Sayang!"
"No, please.." Suara Ivander terdengar lebih dekat, Sora memasuki ruangan, ia melihat tangga menuju bawah, tanpa berpikir panjang, Sora mulai menuruni anak tangga tersebut.
"Ahh.. hahh." Sora haus, ia menyesal tidak berganti pakaian terlebih dahulu. Pantas saja Ivander menawarinya untuk berganti pakaian.
Permainan ini memang gila, Sora.. menyesali jika ia ingin bermain sesegera mungkin. Mereka harus saling menyayat jika ingin kembali bersembunyi dan melanjutkan permainan. Ivander licik, ia tidak memberitahunya. Pria itu penuh dengan kejutan.
Sesampainya di lantai bawah yang begitu minim dengan penerangan, Sora sedikit kesulitan melihat, ia berjalan menyusuri lorong sambil meraba dinding, ia membuka beberapa pintu lalu hingga akhirnya ia melihat sebuah tirai merah maroon. Ia juga melihat meja dan sepasang kursi.
Sora membuka tirai tersebut tanpa ragu, indra penciumannya langsung menangkap bau tak sedap, namun ia tidak menghiraukannya. Ia duduk disamping meja bundar kecil, Sora tidak melanjutkan langkahnya, didepannya sungguh tertelan kegelapan.
"Amour, kau disini?!"
Sora terpekik, ia semakin merapatkan tubuhnya pada dinding dan memeluk kakinya. Ruangan apa ini? Mengapa sangat gelap gulita dan berbau tak sedap.
Sora menunduk, ia menahan isakannya agar tidak lolos, gadis tersebut tidak tahu harus berlindung ke siapa, Sora merasakan panas pada pahanya yang tersayat. Sora semakin kuat memeluk kakinya, ia menelusupkan kepalanya di lutut.
"Sweetheart."
Suara tirai terbuka bersamaan dengan suara Ivander yang terdengar. Sora menutup matanya rapat, ia juga memegang erat silet sebagai senjatanya.
Ivander mengetukkan jari telunjuknya pada dinding, ia masih berdiri dekat tirai. Terdengar helaan napas kecewa Ivander, pria jangkung tersebut melangkahkan kakinya menjauhi ruangan di balik tirai.
Ketukan suara sepasang sepatu milik Ivander menjauh, meninggalkan Sora yang masih memeluk kedua kakinya sambil menyembunyikan kepalanya. Sora berharap fajar segera tiba, meskipun ia merasakan belum bermain dua jam.
Ivander menutup pintu, Sora masih belum beranjak dari tempat bersembunyinya kali ini, Ivander bisa saja menipunya. Sora lebih baik diam sementara waktu daripada harus kembali tertangkap
.
Terhitung menit telah berlalu, tempat ini masih begitu sunyi ditemani suara degupan jantungnya yang perlahan mulai normal.
KAMU SEDANG MEMBACA
[2.1] IVANDER [END]
Romance[COMPLETED] Terperangkap dalam obsesi yang menjerat membuat Sora, seorang perempuan yang mengalami potongan kejadian demi kejadian buruk yang mengalir dihidupnya membuat ia 'tertekan'. Mengabaikannya, dan membuat ia menjadi orang yang membenci keram...
![[2.1] IVANDER [END]](https://img.wattpad.com/cover/287587641-64-k613433.jpg)