Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

46. Flashback

44 10 3
                                        

Happy Reading!!

Acha duduk seraya memperhatikan jalanan yang ramai. Dirinya tengah berada disebuah cafe, berniat untuk menemui pamanya Firman. Seperti biasa Acha selalu memilih duduk didekat jendela, katanya sih kalau duduk dekat jendela tuh vibesnya dapet.

Acha terdiam saat melihat sebuah keluarga yang sedang berbincang. Keluarga itu sangat harmonis, tak ada yang namanya dibedakan atau pertengkaran. Semua berjalan dengan baik. Acha iri? Tentu saja. Seorang anak brokenhome akan selalu iri jika melihat sebuah keluarga yang begitu harmonis, tak seperti keluarganya sendiri.

Ditengah lamunannya, seorang lelaki paruh baya yang mengenakan jas berwarna hitam dengan dalaman berwarna putih, datang. Pria itu langsung saja mendudukkan dirinya dikursi berhadapan dengan Acha.

"Kamu nunggu nya lama ya?" tanyanya.

Firman memiringkan kepalanya. Tangannya naik melambai lambai didepan wajah Acha. Tak berselang lama, Acha pun kembali sadar.

"Loh, paman kapan datang?"

"Baru saja. Kamu dari tadi mengkhayal?"

Acha hanya cengegesan menanggapai ucapan pamannya. Ingin sekali ia menghilang dari hadapan pamannya itu, karena ketahuan melamun.

"Kamu sudah makan?" tanya Firman.

Acha menggeleng.

"Yasudah. Sekarang kita pesan makan dulu ya." Firman memanggil salah seorang pelayan. Pelayan itu datang membawa daftar menu, lalu memberikan daftar menu itu kepada Firman.

"Mau makan apa?" tanya Firman kepada Acha.

"Terserah. Acha makan apa aja." balasnya.

"Gimana kalau spagetty." ujar Firman.

Acha hanya mengangguk. Jujur saja dia memang sudah sangat lapar, bodo amat apa yang dipesan pamannya itu. Yang penting dia makan.

"Yasudah. Spagetty nya 2 sama minumannya 2 juga."

Pelayan itu mengangguk. "Ditunggu 15 menit ya Pak, Dek."

Firman menatap keponakannya itu yang sibuk memainkan ponsel. Senyuman dibibirnya terbit. Sudah lama ia tak bertemu dengan keponakannya.
Ia kembali mengingat tujuan pertemuannya dengan Acha apa.

"Cha, tadi kamu bilang, kamu mau bicara. Bicara tentang apa?" tanyanya.

Pandangan Acha naik menatap sang paman. "Paman janji gak akan marah sama Acha?"

"Kasih tau dulu, baru paman janji." balas Firman.

"Dimana-mana tuh, janji dulu baru dikasih tau." celetuk Acha dengan muka masamnya.

Firman hanya terkekeh. "Yasudah paman janji. Sekarang cerita ya."

"Paman ingat? 5 tahun lalu. Dimana paman membunuh seorang asisten dirumah. Sebenarnya Acha tau semua itu. Acha melihat dengan mata kepala Acha sendiri. Maaf jika sebelumnya Acha tak cerita ini kepada paman. Acha hanya ingin tau, apa motif dibalik paman ngebunuh asisten itu?" tanya Acha.

Mata Firman membulat sempurna. Benar saja ternyata saat pembunuhan ada seseorang yang mengintip. Waktu itu, ia memang merasa ada yang melihat kelakuannya, namun saat ia lihat orang itu sudah tak ada. Dan itu adalah Acha. Kenapa anak sekecil Acha bisa melihat pembunuhan itu? Dan mengapa dia masih mengingatnya sampai sekarang.

ACHA [END✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang