Happy reading!!
"Shh..."
Dengan perlahan Acha mencoba untuk duduk. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, Acha mulai memperhatikan ruangan gelap yang ia tempati sekarang.
"Aku dimana?" tanyanya bermonolog.
Tiba-tiba suara pintu berbunyi, tanda ada seseorang yang masuk kedalam ruangan tersebut.
Acha menelan ludah dengan susah payah. Keringatnya bercucuran. Ia ketakutan. Takut jika Dinda kembali menyakitinya. Tapi disisi lain, dia juga penasaran dengan seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan yang ia tempati.
Lampu menyala. Silauan lampu membuat mata Acha sedikit menyipit. Tangannya naik mengucek matanya. Perlahan tapi pasti, Acha dapat melihat siapa orang itu. Dinda? Yap.
Dengan seringainya, Dinda berjalan menghampiri Acha. Tangannya naik mengusap lembut surai rambut milik putrinya itu.
"Gimana keadaan kamu?" tanyanya.
Acha menggeleng. Tak tahu harus berkata apa lagi, perasaannya tak karuan. Ingin menghindar, namun tidak bisa. Tubuhnya serasa dikunci.
"Keputusan Mama sudah bulat. Mama akan mengeluarkan kamu dari rumah ini."
Mata Acha membulat sempurna. Ia menggeleng. "Tapi kenapa, Mah?"
"Intinya, ada sebuah alasan yang membuat Mama sendiri tak tahu harus berbuat apa, selain mengusir mu."
"Setelah semua usaha Acha untuk membuat Mama senang dengan seenaknya Mama ngusir Acha?"
"Mama gak mikir, tiap malam Acha berkutat dengan buku-buku sampai tengah malam, hanya untuk bisa mendapat nilai seperti yang Mama inginkan? Mama benar-benar nggak pernah peduli sama kesehatan Acha. Mama hanya sibuk dengan keluarga Mama, tanpa memikirkan perasaan Acha." lanjutnya.
Dinda hanya menatap datar Acha. "Okey. Mama berterima kasih karena kamu sudah berusaha sampai sekarang."
Diam. Tiba-tiba saja hening menyapa kedua ibu dan anak itu. Mereka berdua terdiam begitu saja. Acha tak mau jika harus keluar dari rumah ini. Tapi Dinda? Dia sangat memaksakan Acha agar keluar.
"Mah, Acha gak mau. Acha mau disini. Kalau Acha pergi, Acha harus kemana?"
"Jika sudah sembuh, silahkan keluar dari rumah ini." kata Dinda, mengalihkan pembicaraan.
Air matanya Acha jatuh begitu saja. Kenapa? Kenapa seorang ibu tega mengusir anaknya? Apakah mereka tak memikirkan keadaan anaknya jika harus terlantar dijalanan? Sebegitu pentingnya keluarga baru yang dia punya, sampai harus merelakan anaknya sendiri? Ini benar-benar tidak adil bagi Acha.
Dinda keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Acha yang masih menangis. Terlihat jika Dinda sangat tak mempedulikan Acha. Tapi, jauh didalam hatinya, dia sangat kasihan melihat Acha. Terlebih, dia juga sudah tau jika Acha mengidap kanker. Tapi semua ini harus ia lakukan, agar keluarganya kembali harmonis.
"Tuhan, kenapa nasib aku seperti ini?"
Perlahan Acha turun dari kasur itu. Pandangannya tertuju pada koper yang sudah diisi dengan pakaiannya. Ia menarik koper tersebut keluar dari kamar. Sampai diambang pintu kamarnya, Acha kembali menoleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
ACHA [END✓]
Novela Juvenil[𝐅𝐨𝐥𝐥𝐨𝐰 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐛𝐚𝐜𝐚] (REVISI SEDANG BERJALAN) "Maaf jika aku tak dapat menepati janji. Terima kasih untuk kasih sayang kalian. Sampai bertemu dikehidupan yang lebih indah." -Acha Septriasa Kinantara Start : 29 Januari 2022 Finish...
![ACHA [END✓]](https://img.wattpad.com/cover/299947171-64-k546769.jpg)