Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

51. Akhir dari kisah mereka

134 12 3
                                        


Happy Reading




"Maaf jika aku tak dapat menepati janji. Terima kasih sudah menjaga ku dan menjadi rumah bagiku. Sampai bertemu dikehidupan yang lebih indah."

~Acha

David memasuki ruangan Acha. Didalam ruangan tak ada siapapun kecuali sang pasien yang tengah melamun.

"Cha," panggilnya seraya mendudukkan dirinya dikursi dekat dengan brankar Acha.

Hening. Keduanya diam tak bersuara sama sekali. David terus memperhatikan Acha yang masih melamun. Sorot mata Acha terlihat sendu. Ntah apa yang dipikirkan gadis itu, sampai tak sadar jika ada seseorang didekatnya.

"Cha," panggil David lagi. Tangannya naik menepuk pelan pundak Acha. Membuat sang empu terkejut.

Pandangan Acha turun menatap David. Senyuman terukir dibibir gadis itu. Tangan Acha terbuka. Seperti tau maksud dari Acha, David berdiri lalu mendudukkan dirinya dipinggir brankar dan memeluk Acha.

"Maaf," lirih Acha dalam dekapan.

"Kenapa maaf? Kamu salah apa?" tanya David.

Tangan David mengusap lembut rambut Acha. Sebuah kejanggalan. Beberapa helai rambut Acha tercabut begitu saja. David sama sekali tidak menariknya kuat, ia hanya mengelusnya, namun kenapa bisa rambut Acha tercabut?

"Aku udah marahin kamu waktu itu, maaf." ucap Acha.

David senang sekarang Acha sudah tak menggunakan kata (lo-gue) lagi.

"Iya, Cha."

"Kamu tetap disinikan? Disamping aku, selamanya? Sampai aku..."

"Sstt! Mau bilang apa? Mau bilang kalau mau mati? No, Cha. Kamu pasti bisa lewatin semua ini. Jangan pernah berfikir untuk mati, tak ada yang tak mungkin didunia ini. Kamu pasti bisa sembuh. Pasti. Aku akan selalu disamping kamu, tetap bersamamu sampai kapanpun. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, sekalipun itu takdir. Kita dipertemukan bukan untuk langsung berpisah, bukan. Tapi kita dipertemukan untuk bisa menerima satu sama lain dan bisa menjalani kehidupan bersama."

Acha terisak. Tangannya melingkar erat dipinggang David. Salah. Semua ini salah. Seharusnya ia tak usah mengenal David, jika pada akhirnya ia harus melukai hati pria baik ini.

Perlahan, David melepaskan pelukannya. Dengan senyumannya, ia mengusap jejak air mata Acha menggunakan ibu jarinya.

"Jangan nangis ya. Kalau nangis makin cantik soalnya." ucap David diakhiri kekehan.

Refleks Acha menabok pelan bahu David. "Apaan sih, Vid."

David mencium kening Acha. Ini bukan pertama, tapi sama saja bikin hati Acha berdisko-disko.

Kedua netra mereka saling bertemu. Terdapat rasa cinta dan kasih sayang yang dapat terlihat dari tatapan keduanya. Walau mungkin sekarang mereka sudah tak memiliki hubungan spesial, tapi rasa itu tetap sama. Tatapan keduanya begitu dalam. Keduanya sibuk membaca setiap isyarat dari tatapan mereka.

Perlahan, David mengikis jarak antara Acha. Sudah dipastikan Acha semakin gugup. Kini, keduanya semakin dekat. Deru napas yang terdengar saling menyaut. Hidung mereka juga hampir bertemu. Ini terlalu dekat.

ACHA [END✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang