Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

43. Melepas kerinduan

47 17 4
                                        

Happy Reading 💘

Acha berjalan ditrotoar jalan sambil menarik kopernya. Tak tahu harus kemana, ia sangat bingung. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis meratapi nasib yang benar-benar sial ini.

Seandainya Rey masih hidup, mungkin saja Acha bisa bercerita semua keluh kesahnya selama ini kepada Papa nya. Namun, jika kembali mengingat semua masa lalu, sepertinya Acha tidak pernah bercerita apapun tentang masalahnya kepada kedua orang tuanya. Menyembunyikan semua itu sendiri, dan hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Hari mulai gelap, sebentar lagi malam datang. Dan Acha masih saja terus berjalan, ntah kemana. Hatinya gundah. Sepanjang jalan, lelehan air matanya terus berjatuhan.

Tak terasa dirinya sampai disebuah halte. Jalanan terlihat sepi. Pandangannya naik menatap langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ia berbalik menatap kursi panjang dihalte tersebut. Apakah dirinya tidur disini untuk semalam saja?

Acha mendudukkan dirinya dikursi tersebut. Memeluk kedua lututnya dan kembali menangis. Kali ini suara tangisannya begitu kencang. Hatinya sakit. Sangat sakit.

"Aaarrgghhhh!!!"

Acha menendang tiang halte. Frustasi. Ya, dia sudah sangat capek dengan semua ini. Ingin menentang seluruh takdir yang selalu membuatnya hancur, pun tak bisa. Dia hanya manusia biasa. Takdir begitu kejam terhadapnya. Membiarkan Acha tersiksa selalu, dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis.

Semua orang disekelilingnya tidak pernah memikirkan perasaan Acha. Mendekati Acha hanya untuk sebuah ketenaran. Saat ia berbahagia, semua datang. Namun, saat ia jatuh dan terpuruk mengapa semua orang itu menjauh?

Acha mengacak rambutnya. Tubuhnya merosot kebawah. Meninju dengan keras lantai beton halte. Tak memperdulikan tangannya yang sudah berdarah akibat ulahnya sendiri.

Acha berteriak sekencang mungkin. Tak ada siapapun disana. Hanya dirinya dan kesunyian. Tidak berselang lama, hujan turun disertai suara gemuruh petir.

Pandangan Acha naik menatap langit. Ia berjalan menuju jalanan yang sepi. Mengadahkan wajahnya, merasakan setiap tetes air yang jatuh dari langit.

"Ini semua tidak adil buat Acha."

Acha terdiam. Ia berjongkok ditengah jalanan yang sepi itu. Membiarkan tubuhnya basah terkena air hujan. Malam itu, semua kegundahannya ia tumpahkan dibawah guyuran hujan.

Tanpa ia sadari, seseorang berada dibelakangnnya. Melindungi tubuh Acha menggunakan payung agar tidak basah kuyup. Acha yang merasa tidak ada lagi air yang mengenainya, pun berbalik.

Karena posisinya berjongkok, Acha hanya dapat melihat celana dan sepatu orang tersebut. Dari kedua benda itu, seperti tidak asing baginya. Ia perlahan berdiri, sambil terus memperhatikan dari bawah sampai atas style orang itu.

Mata Acha membulat sempurna saat berpapasan dengan seorang yang sedang memayunginya itu. Dengan susah payah ia menelan saliva. Sedang, senyuman mengambang dibibir orang itu.

"Pulang, yuk!" Ajaknya. Acha menggeleng.

"Lo ngapain disini?" tanya Acha seraya berjalan kembali ke halte.

"Ngikut kata hati." balas David sambil mengekori Acha.

Acha mendengus remeh. "Masih berani lo ketemu sama gue, setelah apa yang sudah lo perbuat?"

ACHA [END✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang