Biasakan vote sebelum membaca, jangan lupa komen dan share setelah itu. Thank you.
Enjoy.
***
Sebenarnya pun hatinya dipenuhi dilema tak terbatas, tetapi ia mengabaikan.
📖 Jangan Berhenti Baca di Bagian Ini 📖
Hari ini, sesuai kesepakatan "No phone, during the holidays." Aqsa dan Asha sama-sama menaruh ponselnya di sebuah kotak yang kemudian Aqsa letakkan di dalam kamarnya sebelum mereka meninggalkan hotel. Hanya ada dua kamera mewah yang saat ini Aqsa dan Asha bawa. Hari ini juga wajah keduanya nampak lebih cerah dari hari kemarin, pagi tadi gerimis sempat turun tetapi hanya sebentar.
Mobil yang Aqsa kendarai kembali membelah jalanan Venesia, rencananya mereka akan makan siang di sekitar Piazza San Marco, yaitu alun-alun utama di Venesia, Italia, yang umumnya dikenal hanya sebagai "Piazza".
Di tengah makan siangnya, sebuah pertunjukan sulap menjadi hiburan tontonanya. Aqsa mengabadikan beberapa momen lucu bagaimana pesulap di depan sana mengubah sebuah bunga mawar menjadi merpati dan diterbangkan. Beberapa turis juga melakukan hal yang sama.
Asha lamat-lamat juga menikmati pertunjukan sulap di depannya, hingga beberapa saat seorang pesulap di depan sana menunjuknya untuk maju dan berdiri di depan. Pesulap itu berbicara menggunakan bahasa Rusia.
Aqsa melambaikan tangannya kecil, bermaksud menolak, tetapi sang pesulap tetap kekeh menunjuk Aqsa dan meminta perhatian dari pengunjung tempat makan agar memberi tepuk tangan padanya.
Asha tertawa, menatap Aqsa dengan tatapan meledek. "Udah, maju aja."
Suara tepuk tangan semakin riuh saat Aqsa mulai berdiri dan berjalan menghampiri pesulap di depan sana. Asha mengambil kameranya, mengabadikan momen saat Aqsa dengan wajah merahnya malu-malu menjawab pertanyaan dari sang pesulap. Beberapa kali Asha tertawa karena ternyata Aqsa tidak terlalu fasih berbicara Rusia, lelaki itu beberapa kali menyambung kata-kata Rusia dengan bahasa Inggris, yang tentu saja itu membuat percakapannya sedikit tidak nyambung dengan pesulap di sampingnya.
Yang Asha dengar, pesulap itu berbicara pada Aqsa bahwa ia juga tidak mahir menggunakan bahasa Inggris. Jadi, mereka sama-sama mengobrol dengan alur yang tidak jelas. Di sana pesulap berjenggot putih itu memberikan seikat mawar merah berisi sekitar tujuh tangkai pada Aqsa.
"Berikan ini pada pacarmu, dia sangat cantik." Suara tepuk tangan kembali meriuh saat sang pesulap berhenti berbicara. Kalimat yang dilontarkan pesulap itu membuat kamera yang Asha pegang hampir saja merosot dari tangannya, jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat, sementara Aqsa terlihat menatap matanya dari depan sana.
Asha berdoa, semoga saja Aqsa tidak mengetahui apa yang baru saja pesulap itu katakan. Aqsa kembali ke meja makan, tangannya terulur memberikan seikat bunga mawar merah padanya, Asha menunjuk meja. "Taruh aja situ."
"Kata dia, berikan ini pada pacarmu, dia sangat cantik," ujar Aqsa sembari menahan tawanya. Asha mendengus kesal, sial sekali, mengapa Aqsa tahu artinya? Apa lelaki itu hanya berpura-pura bodoh di depan pesulap tadi dan mengatakan bahwa ia tidak cukup pandai berbahasa Rusia?
"Did you lie before?"
Aqsa mengangguk kecil sembari tertawa. "Gue males jadi pusat perhatian, makanya gue bilang aja nggak fasih bahasa Rusia. Bener kan, gue nggak diajak main sulap cuma dikasih bunga? this is a clever trick, Asha," ucap Aqsa dengan berbangga hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darkside: Nightmare
Teen Fiction● H I A T U S ● ➡️ WAJIB DIBACA ⬅️ ⚠️Rate 17+⚠️ "Dalam pekatnya hitam, aku hidup." "Tidak ada jalan keluar kecuali percepat selesaikan." Genre: Teenfiction-Thriller-Family ⚠️Warning Section⚠️ Jangan mencoba mencari siapa pemeran utama di da...
