Part : 61

764 45 2
                                        

Happy reading


Mungkin inilah salah satu momen yang paling Hazel tunggu, walaupun tak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Tapi setidaknya ia dapat merasakan apa yang sudah lama tak ia rasakan.

"Tante kangen banget sama kamu, Zel." Kata Alana dengan tubuh yang memeluk erat gadis yakni keponakannya sendiri.

"Hazel juga kangen banget sama Tante," Jawab Hazel. "Tante apa kabar?" Lanjutnya bertanya.

Alana mengangguk tenang. "Tante baik-baik aja, Tante sehat."

Hazel tersenyum mendengar itu. "Kamu sendiri gimana?" Tanya Michael yang tengah duduk di sebelahnya.

"Sejauh ini baik kok, om." Jawabnya tenang.

"Tadi kata Abhitama ada yang mau dibicarain sama kamu, ke ruangan dia dulu gih." Suruh Michael sembari merapikan rambut Hazel yang sedikit berantakan.

"Iya tadi ayah ngomong itu, Hazel ke sana dulu ya, om, Tante." Pamitnya, Hazel berdiri dari duduknya dan segera berjalan menuju ruangan ayahnya yang tak jauh dari sana.

Tok~ tok~

Hazel mengetuk pintu berbahan kaca di depannya. Tak ingin membuat kebisingan, ia takut mengganggu pasien lain.

Abhi segera membuka pintu ruangannya, hingga pandangan matanya menangkap keberadaan gadis dengan pita pink di rambutnya.

"Alana sama Michael udah datang, nak?" Tanya Abhi menyambut Hazel dan mempersilahkan gadis itu masuk.

Hazel mengangguk ia harus sedikit melompat untuk meraih tempat duduk putar milik ayahnya.

"Udah satu jam yang lalu, kira-kira. Ada apa? Ayah manggil Hazel?"

Gadis itu memang seperti tak punya rasa malu. Bahkan sekarang ia tengah ada di kursi kerja Abhi. Sedangkan abhi sendiri hanya berdiri memandangi anak gadisnya.

"Maaf Hazel duduk disini ya ayah, Hazel pegel." Paparnya dengan ekspresi wajah seolah-olah tak berdosa.

"Gak apa-apa duduk aja, jadi gini, ada yang perlu ayah bicarakan sama kamu."

"Apa itu?"

"Operasi yang bakal kamu jalanin, bakal ayah percepat." Jelas Abhi singkat.

Abhi tadinya ingin berbohong. Dengan rencana akan menyampaikan ini pada Hazel bukan operasi, tapi serangkaian terapi. Tapi menurut Abhi, ia tak ingin berbohong, ia jujur saja, karena ini yang terbaik.

"Dipercepat? Jadi kapan?" Hazel meneguk salivanya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Seolah-olah seperti habis lari maraton.

"Besok."

Bahkan setelah mendengar kata 'besok' Hazel terdesak salivanya sendiri hingga terbatuk-batuk. Ini begitu sangat menakutkan baginya.

"Besok banget? Gak lusa atau besokannya lagi?" Tanya Hazel, sebenarnya ia memberi kode karena ia takut. Abhi pun peka sebenarnya, tapi bagaimana lagi, ini sudah jalan yang seharusnya.

Kennand Perfect BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang