Happy reading
•
•

"Maafin Abang yang egois ya, dek.."

"Maafin Acel gak bisa wujudin apa yang Abang mau.."
•
•
Perpisahan adalah keputusan, namun keputusan bukan hanya perpisahan. Perpisahan memang berat, namun merelakan jauh lebih berat.
Memaafkan semua kesalahan yang telah lalu memang begitu mudah, tapi tidak dengan kenangannya.
Pertemuan memang selalu berjodoh dengan perpisahan, tak akan bisa dihindari. Sekalipun memang sudah ditakdirkan untuk bersama, perpisahan pasti ada, tak kenal siapa duluan yang akan meninggalkan, dan siapa duluan yang akan ditinggalkan.
"Tadi sama Kennand ngobrolin apa aja? Lama banget perasaan, terus dia keluar lewat mana? Abang gak liat dia keluar lewat pintu depan?" Tanya kakak laki-lakinya, yang kini tengah duduk berhadapan dengan Hazel lengkap beserta makanan di depannya.
Hazel menggeleng dengan mulut yang penuh dengan makanan. "Ga-"
"Telen dulu makanannya, pamali dek, ngomong tapi mulutnya penuh makanan."
Dengan cepat Hazel mengunyah makanannya lalu menelannya. "Gak ngomongin apa-apa." Jawabnya.
"Kalau gak ngomongin apa-apa, kenapa lama banget di dalem tadi."
"Omongin si, soal besok dia mau pulang ke Indonesia."
Akhirnya Azlan mengangguk paham. "Tapi kamu sama dia balikan atau enggak?"
Hazel spontan menggeleng. "Enggak ya! Gak balikan cuma ngobrol biasa aja."
"Kenapa kamu gak mau balikan sama dia?" Tanya kakaknya lagi, jujur Hazel sedikit sebal mendengar kakaknya ini membahas Kennand.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kennand Perfect Boyfriend
Teen Fiction'𝐬𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐫𝐚-𝐩𝐮𝐫𝐚𝐚𝐧' Sebuah bukti nyata bahwa tidak ada takdir yang tidak mungkin. Bahkan dari sebuah kebohongan bisa menjadi kisah yang berharap utuh sel...
