Dua remaja yang saling membenci harus terlibat dalam sebuah perjanjian kerja paksa hanya karena sebuah pena, berawal dari benda kesayangan Arsyad yang Hera sita, membuat lelaki itu harus menjadi budak gadis paling egois dan angkuh se SMA Harapan Jua...
Seperti biasa sebelum baca silakan klik vote dulu yaa!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
*
🌻
*
*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____🌻_____
Aditama menggenggam erat-erat gagang gitar milik putrinya, rahang pria beriris mata coklat gelap itu mengeras bahkan garis otot di tangannya tampak begitu jelas, tanpa disangka Aditama lantas membanting alat musik tersebut cukup keras.
Gitar yang berbahan dasar kayu menghantam permukaan lantai marmer warna hitam, seketika senar yang tadinya tersusun rapi kini terputus akibat patahan badan gitar, Gressa yang melihat benda kesayangannya hancur di depan matanya sendiri merasa hatinya sangat remuk.
Hanya benda itu yang paling mengerti perasaannya, yang selalu menemaninya disaat tak ada orang yang bisa dipercaya, tapi apa sekarang? Ia tak tahu lagi harus bagaimana, selama ini Gressa sudah cukup sabar atas sikap Papanya dan sekarang tak ada gunanya lagi.
"Kenapa sih Papa ga pernah adil sama Gressa?!" tanya gadis bermata bulat menatap kecewa ke arah Papanya.
Gressa sudah tidak tahan dengan semua ini, cairan bening yang mengalir deras hingga membasshi pipinya cukup menggambarkan kebencian yang kian memuncak, perasaan tidak adil membuatnya betul-betul marah, "Hera juga punya cita-cita tapi kenapa hanya Gressa yang Papa tentang?"
"Papa selalu bilang ini yang terbaik, tapi Papa ga pernah tahu apa yang menurut Papa baik belum tentu baik buat Gressa!" tekannya penuh emosi.
Tidak merasa bersalah sedikitpun pria paruh baya yang tadinya berdiri di depan pintu dekat ranjang, kini jemarinya kembali meraih sebuah buku berisi lirik lagu yang selama ini Gressa tulis di atas meja kayu samping gadis bercelana jeans putih pendek tersebut.