Dua remaja yang saling membenci harus terlibat dalam sebuah perjanjian kerja paksa hanya karena sebuah pena, berawal dari benda kesayangan Arsyad yang Hera sita, membuat lelaki itu harus menjadi budak gadis paling egois dan angkuh se SMA Harapan Jua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
*
*
🌻
*
*
*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**🌻**
Terdengar gelak tawa dari ketiga manusia yang tengah berbincang dalam ruang tamu berlantai marmer hitam rumah bercat serba putih itu, agaknya tak perlu banyak waktu agar Arsyad dan Adirama bisa akrab, malah lebih susah berbaur dengan Hera daripada Papanya.
Namun selang beberapa saat telepon genggam milik pria paruh baya yang diletakkan di atas meja berdering, terbaca dari layar ponsel tersebut nama salah satu rekan bisnisnya.
"Guntoro."
Adirama segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, iya ini saya akan segera kembali ke kantor."
"Ada apa Pa?" tanya Hera seusai sang Papa mematikan ponselnya.
"Ada masalah sedikit di kantor," jelasnya lalu berdiri.
"Papa tinggal dulu ya!" pamit Adirama sambil mengecup kening putri bungsunya kemudian berjalan ke arah pintu ukiran jati yang terbuka lebar.
Sekarang hanya tinggal pemuda berseragam coklat susu dan Hera di sana, keduanya pun hanya saling memandang sesekali, entah mengapa rasa canggung itu kembali muncul.
"Lo gimana?" tanya Arsyad sedikit gugup.
Hera mengerutkan keningnya. "Gimana apanya?"
Arsyad membuang pandangannya ke jendela besar yang begitu tinggi menjulang di sisi kanan kiri pintu, lelaki berambut agak gondrong itu kemudian berkata, "Tadi 'kan lo ga enak badan."
"Oh, gue ga apa-apa ko," balas Hera dengan ekspresi meyakinkan.