Selasa pagi ini Hera sudah boleh keluar dari rumah sakit, tentu karena rengekan gadis itu dan rayuannya pada sangat Ayah.
Sesampainya di rumah, Hera yang mengenakan dress putih dibalut cardigan coklat susu hanya bisa duduk di kursi roda, melihat saudarinya dibawa masuk ke rumah oleh beberapa pembantu netra Gressa tertuju pada kaki adiknya yang bengkak.
Seharusnya ia senang, penghalang di hidupnya kini sudah tidak berdaya, tapi mengapa rasanya seolah ada yang hilang?
"Hera untuk sementara tidur di kamar bawah dulu ya?" Pria berkaca mata itu menekuk lututnya di depan Hera.
"Iya Pah," Jawab gadis itu pelan.
Aditama yang mengenakan jas hitam pun segera mendorong kursi roda putrinya menuju kamar, di sana Pria tersebut langsung mengangkat tubuh mungil Hera dan meletakkannya diatas ranjang bersprei merah marun.
"Hera istirahat dulu ya," Suruh Aditama lalu mengecup kening putrinya, tak lupa ia menutup tirai putih jendela yang cukup tinggi agar cahaya matahari tak masuk kedalam ruangan.
"Makasih ya Pah," ujar Hera.
Aditama pun tersenyum tipis. "Sama-sama sayang."
"Papa tinggal dulu ya?"
Hera mengangguk pelan menyaksikan sang ayah berjalan keluar kamar.
Sekarang saatnya Hera mengabati Leni, ia menuliskan pesan singkat di whatsapp mengabarkan bahwa dirinya sudah pulang.
*****
Sore harinya saat Hera tengah menikmati udara segar di teras penuh pilar tinggi itu bersama satu pembantunya yang mendorong kursi rodanya tiba-tiba terkesiap, tatkala melihat sebuah mobil berwarna silver memasuki area rumahnya.
Benar saja itu adalah Arsyad, siapa yang telah memberi tahu lelaki itu?
"Pasti Leni," Gumam Hera kesal.
"Bi ayo kita masuk!" Titah Hera, dengan cepat wanita paruh baya berdaster merah dengan rambut tergolong itu mendorong kursi roda Hera.
Lelaki berseragam putih abu-abu yang baru saja turun dari mobil pun berlari memasuki rumah mewah serba putih itu.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Hera lantang lalu memnalikkan kursi rodanya, ia mendapatkan sang lelaki sudah berdiri di depan pintu.
"Bukannya lo seneng gue kayak gini?" tanyanya lagi penuh penekanan di akhir kalimat, sepertinya gadis itu belum bisa memaafkan perbuatan si laki-laki.
"Gue cuma mau lihat keadaan lo," balasnya singkat.
"Terus sekarang setelah lo lihat keadaan gue, lo mau apa? Mau ngetawain gue?"
"Atau sebarin ke satu sekolah kalau gue kalah dan lo ngerasa menang?!"
"Tenang aja gue ga mati, kan? Cuma hati gue aja yang sekarang udah mati buat cowok kayak lo!" lanjutnya dengan nada tinggi, ia tak habis pikir pengecut itu masih berani menampakan wajahnya di hadapannya.
"Enggak Ra! Gue tahu gue salah, gue mau minta maaf."
Maaf? Rasanya sudah muak ia mendengarkan kata-kata itu dari mulut Arsyad, karena tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi gadis pemilik lesung pipi itu pun segera menepis tangan lelaki yang menghadang tubuhnya.
"Ayo Bi kita pergi!" titah Hera pada seorang wanita paruh baya yang mendorong kursi rodanya.
"Gue cinta sama lo Ra, gue cinta!"
Deg!
Jantung Hera seakan berhenti lalu terpacu dua kali lebih cepat, ia tak tahu entah ucapan lelaki itu bisa dipercaya atau lagi-lagi hanya tipu dayanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Abu-abu [END]
Roman pour AdolescentsDua remaja yang saling membenci harus terlibat dalam sebuah perjanjian kerja paksa hanya karena sebuah pena, berawal dari benda kesayangan Arsyad yang Hera sita, membuat lelaki itu harus menjadi budak gadis paling egois dan angkuh se SMA Harapan Jua...
![Catatan Abu-abu [END]](https://img.wattpad.com/cover/310368381-64-k302789.jpg)