Dua remaja yang saling membenci harus terlibat dalam sebuah perjanjian kerja paksa hanya karena sebuah pena, berawal dari benda kesayangan Arsyad yang Hera sita, membuat lelaki itu harus menjadi budak gadis paling egois dan angkuh se SMA Harapan Jua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____🌻_____
Lukisan penuh warna yang menggambarkan sesosok lelaki berambut agak gondrong, dengan bola mata hitam legam lagi-lagi membuat Arsyad merasa bersalah. Pemuda berkaos lengan pendek abu tua itu tak henti menatap benda di tangannya.
Kini ia duduk di atas ranjang tempat tidur bernuansa abu-abu, kakinya menapaki lantai kayu yang terasa dingin menyentuh kulitnya.
"Hera pasti susah payah bikin ini," ujarnya penuh penyesalan. Sesekali pemuda itu mengacak-acak kepalanya.
Ia belum pernah merasakan secemas ini, rasanya ia telah menjadi pengecut yang memalukan, tak hanya itu Arsyad juga mendapati sebuah perasaan aneh dalam hatinya.
Ini bukan lagi tentang penyesalan, tapi benci yang luar biasa pada diri sendiri, bukan tanpa alasan melainkan karena cinta yang mulai tumbuh di sana.
"Apa gue udah benar-benar jatuh cinta?" tanyanya bingung.
"Gak mungkin! Ini pasti cuma rasa bersalah gue ke Hera," tepisnya terus saja menolak perasaan yang selalu datang. Rasanya masih sangat sulit sekali untuk bisa menerima perasaan ini, mengingat dirinya dulu yang telah dibutakan benci.
Ia bisa merasakan ketulusan dalam lukisan yang ia pegang, seolah ada nyawa di sana, semakin ia pandang semakin runyam pula batinnya.
Perasaan ini begitu nyata, bahkan benci gue seakan hilang tak tersisa, tapi gue udah nyakitin lo Ra, batin Arsyad lalu memeluk lukisan tersebut.
"Kenapa lo selalu ada di otak gue sih?" geramnya terus-menerus terbayang-bayang atas kata-katanya terhadap Hera seiring bunyi jarum jam, teringat jelas bagaimana raut wajah gadis itu dan air matanya.
Beberapa saat kemudian muncul seorang wanita tua dari balik pintu, wanita berambut keputihan tergelung kebelakang yang mengenakan blouse warna merah itu berjalan menghampiri cucunya, seketika Arsyad langsung meletakkan kanvas di tangannya ke atas meja yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Arsyad," panggilnya pelan lalu duduk di samping pemuda tersebut.
Pandangannya tak lepas dari wajah murung sang cucu, perlahan jemarinya meraih tangan Arsyad. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Arsyad menggelengkan kepala. "Gapapa Oma," Jawabnya berusaha tersenyum.
"Masalah cinta?"
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak, bagaimana mungkin Oma Sari bisa tahu?
"E-engga!" bantah Arsyad cepat.
Tapi sayang, wajahnya tak pandai berbohong, Oma Sari bisa merasakan kebohongan cucunya.
"Oma tahu kamu bohong."
"Sekarang cucu Oma sudah besar, sudah mulai mengenai cinta," tutur wanita itu. Sesekali Oma Sari mengelus kepala cucunya.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat, cinta itu bukan permainan, setiap perbuatan harus selalu ada pertanggungjawaban."