42. PERMINTAAN TERAKHIR

193 14 4
                                        

_____🌻_____

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_____🌻_____

"Ga usah pura-pura bego deh Ra! Lo kecentilan 'kan sama Vega?" tanya Gressa dengan nada makin meninggi, bahkan gadis berusia delapan belas tahun itu sampai menunjuk wajah sang adik menggunakan jari telunjuknya.

"Biar apa coba? Biar lo merasa menang udah rebut semuanya?"

Hera tak menjawab, gadis itu hanya menatap sendu wajah kakaknya, entah mengapa hatinya terasa semakin sakit.

"Kenapa sih lo egois bngt Ra?" Bentak Gressa, membuat Hera tanpa sadar kembali menitihka air mata.

Apa semua sudah terlalu hancur? Apa sudah tidak mungkin lagi untuk memperbaiki hubungan mereka? Sungguh Hera tak ingin situasi menjadi semakin rumit.

Ia tahu dirinya pernah melakukan kesalahan, kesalahan yang mungkin akan menancapkan kebencian di hati Gressa, tapi bagaimana pun mereka tetap sedarah, pasti tetap ada rasa sayang meskipun tidak banyak.

"Gressa!"

Deg!

Suara itu? Sontak Gressa langsung menoleh kebelakang, tepat di depan pintu yang terbuka berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja hitam.

"Kenapa kamu marah-marah ke adik kamu?" tanya pria itu, alisnya seolah terlihat menyatu.

Gressa malah terkekeh, matanya terasa sangat panas, dengan senyuman miris gadis itu bertanya balik, "Papa masih nanya kenapa aku marah?"

"Papa ga pernah tahu apa yang aku rasain!" Gressa mengepal kedua tangannya begitu erat.

Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya dan menceritakan tentang dunia yang tak pernah adil padanya.

"Hera udah rebut semua yang aku punya Pa!"

"Semua!" tekannya berteriak.

Aditama hanya diam dan membeku, menyaksikan putri sulungnya meradang dan meronta.

"Hera udah ambil semua kasih sayang Papa!"

"Hera udah ambil perhatian semua orang!"

"Dan sekarang-" Gressa tak sanggup lagi menahan ini semua, dadanya terlalu sesak dan cairan bening itu mulai mengalir deras dari matanya.

"Sekarang Hera juga rebut perhatian orang yang aku suka!"

Plak!

Untuk kesekian kali tangan pria itu mendarat di pipinya, kali ini bukan tentang seberapa perih, melainkan seberapa hancur hatinya.

"Jaga bicara kamu!"

"Jangan hanya karena seorang laki-laki kamu jadi bertingkah kurang ajar seperti ini!" ujar Aditama lalu menyeret putrinya keluar kamar.

Melihat hal itu Hera tak tinggal diam, gadis berambut kecoklatan tersebut langsung beranjak dan menyusul sang Papa.

"Papa, udah!" pekiknya yang saat ini berjalan di belakang Aditama yang masih menyeret Gressa.

Catatan Abu-abu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang