45. KEMENANGAN DI DALAM KEKALAHAN

175 12 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


_____🌻_____

Setelah bergelut dengan rasa takut di tengah perjalanan, akhirnya Arsyad berhasil sampai ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Para perawat wanita berseragam serba putih itu segera menyiapkan brankar dan membawa Hera menuju UGD.

Wajah Hera begitu pucat, darah di bahunya pun belum juga berhenti, bau amis dan anyir melekat sangat kuat mengiringi langkah para perawat yang mendorong brankar, Arsyad yang tak berhenti merapalkan doa hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan.

"Sebentar ya kak, biar dokter menangani pasien dulu," ujar seorang wanita bertubuh jenjang dengan rambut tergolong kebelakang yang berprofesi sebagai salah satu perawat. Pintu kaca tersebut dibiarkan terbuka lebar agar memudahkan lalu lalang para tenaga medis.

"Tuhan ... Tolong selamatkan dia," pintanya yang kini duduk di kursi besi, dari matanya sudah tergambar berapa hancurnya perasaannya.

Rasa bersalah itu seperti menusuk-nusuk dadanya, kendati Hera celaka bukan karena perbuatannya, ia hanya takut tak bisa menebus semua kesalahannya.

Sementara di dalam ruangan penuh kabel dan alat medis itu tampak beberapa brankar yang dibatasi sekat tirai kain hijau tua, di atasnya terdapat para pasien berbagai macam usia dan keadaan tengah dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan perawat, ada yang bersimbah darah bagian tubuhnya karena kecelakaan, ada juga yang mengalami luka bakar serius.

"Dokter, detak jantung pasien sangat lemah," ujar salah satu perawat yang baru saja selesai memasang kabel monitor di tubuh Hera.

"Lakukan tindakan sekarang!" titah dokter Adam segera mengambil Defibrillator atau alat kejutan jantung yang telah disiapkan perawat di sisi kirinya.

Alat yang dapat memberikan kejutan listrik ke jantung itu langsung diarahkan ke dada Hera, tak lupa para perawat membuka kain yang menutupi kulit pasien, agar aliran listrik tak terhambat.

Dua jam lebih Hera ditangani oleh para petugas medis, pada waktu itu pula Arsyad dihardik oleh ketakutan yang bertubi-tubi memenuhi otaknya, hingga pukul tiga Sore Hera di pindahkan ke ruang ICU, Arsyad hanya bisa melihat gadisnya dari jendela kaca.

"Dok, apa saya boleh masuk?" tanya Arsyad setelah seorang pria berjenggot tipis itu keluar dari pintu kaca ICU.

"Keluarga pasien belum datang?" tanyanya.

"Belum Dok, tadi sudah saya coba hubungi Ayahnya, mungkin masih di kantor," jawab lelaki berseragam putih abu-abu dengan rambut agak gondrong yang sebagian menutupi wajah.

"Yasudah kalau begitu, kamu boleh masuk," ujar dokter Adam pada pemuda yang berdiri di sisi kanan pintu.

"Kalau boleh tahu Hera sakit apa ya Dok?" tanya Arsyad menahan Pria paruh baya yang hendak berlalu dari sana.

Catatan Abu-abu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang