Dua remaja yang saling membenci harus terlibat dalam sebuah perjanjian kerja paksa hanya karena sebuah pena, berawal dari benda kesayangan Arsyad yang Hera sita, membuat lelaki itu harus menjadi budak gadis paling egois dan angkuh se SMA Harapan Jua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
*
*
🌻
*
*
*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____🌻_____
Cahaya remang-remang lampu di pinggir jalan menemani sepasang remaja yang duduk lesehan di atas rerumputan, bukan untuk piknik melainkan merenungi kenyataan, keduanya bersebelahan menghadap danau yang tenang, tapi sayangnya tak seperti suasana hati sang gadis yang tengah acak-acakan.
Lelaki bergaya rambut comma hair itu tak berhenti memandangi wajah sayu gadis disampingnya, ia tak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan semangat Gressa.
"Kenapa sih dunia ga adil banget sama gue?" tanya Gressa lirih, pipinya masih basah.
Vega membisu sembari memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk menanggapi keluhan kesah si gadis.
Lelaki berhoodie putih itu menarik napas dalam-dalam, dengan hati-hati ia pun berujar, "Mungkin bokap pengen yang terbaik buat lo."
"Tapi lo ga ngerasain jadi gue." protes Gressa, hatinya sangat mengganjal pun merasa tidak di mengerti.
"Bokap emang selalu pilih kasih." Lanjutnya.
"Iya emang gue ga ngerasain yang lo rasain, hanya diri lo sendiri yang paling paham dengan keadaan lo, tapi ..." ucap lelaki dengan perban di tangan kanannya terdengar menggantung.
"Setiap orang tua memiliki caranya masing-masing untuk mengutarakan rasa sayangnya, kadang menurut kita sebagai anak itu terkesan mengekang."
Hening, otaknya belum bisa mencerna kata-kata yang Vega sampaikan, semua seolah bertolak belakang dengan isi kepalanya.