44. BALAS DENDAM

178 15 0
                                        

_____🌻_____

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_____🌻_____

Kali ini Hera harus membuang harapannya jauh-jauh, lagi dan lagi Gressa menendang perut Hera begitu keras, saat Hera hendak bangkit, kakinya ditumbangkan oleh Gina, kedua gadis itu meluapkan semua dendamnya.

Rasanya tak mungkin lagi untuk melepaskan diri, Hera hanya bisa berteriak menyaksikan rasa sakit yang begitu hebat di sekujur tubuhnya, badannya gemetaran, pandangannya mulai kabur.

Kini ia tersungkur di bawah kaki sang Kakak, air matanya yang sedari tadi bercucuran sampai membasahi kaos kaki Gressa.

"Lo udah dapatin semua yang lo mau, kasih sayang bokap, bahkan hal kecil yang ga bisa gue dapatkan," ujar Gressa, entah mengapa matanya juga terasa panas.

"Apa masih kurang semua pujian yang lo terima?" tanyanya lirih pada adiknya, Hera tetap membisu, tenaganya benar-benar telah habis.

"Dari kecil, semua keinginan lo terwujud, sementara gue-" Gressa menundukkan tubuhnya.

"Bokap selalu mengekang!" ujarnya diiringi kedua tangannya yang mendorong tubuh adiknya menjauh.

Hera yang hampir terkapar perlahan mulai mengernyitkan bibirnya lalu bertanya, "T-terus se-karang lo mau apa?"

"Gue cuma mau lo lenyap," tekan gadis berisi delapan belas tahun itu.

"Tapi karena itu ga mungkin, gue cuma mau sekarang lo ga jadi penghalang, karena nanti gue yang harus jadi pemenangnya," lanjutnya lalu tersenyum getir.

Jujur tak tahu mengapa hatinya juga terasa sakit, bagaimana pun Hera adalah adiknya, dan ia tak seharusnya melakukan ini.

Lo ga boleh kasihan sama Hera Gress, dia yang selama ini udah renggut kebahagiaan lo, batin Gressa berusaha menguatkan hatinya.

Namun, semakin rasa benci itu datang, semakin hancur juga batinnya. Bagaimana tidak? Ia harus menyaksikan adiknya terisak merintih kesakitan karena ulahnya.

"Cuma karena itu kenapa Kakak tega kayak gini?" Kesekian kalinya Hera berusaha bangkit dengan berpegangan pada meja wastafel.

"Cuma?" Gressa mengeraskan suaranya.

"Ini penting buat gue!" tegasnya.

"Dan apa gue ga salah denger, lo manggil gue Kakak?"

"Lo ga pernah gue anggap sebagai adek gue, jadi jangan pernah panggil gue dengan sebutan itu!"

Deg!

Tuhan, kenapa semuanya jadi begini? Hera tahu semua berawal dari kesalahannya di masa lalu, tapi apa harus sesakit dan sehancur ini?

Sepertinya mustahil mereka bisa berdamai, bahkan kenangan indah semasa kecil saja mereka tak punya, dan Hera sudah kehabisan kata-kata.

Apa gue keterlaluan? tanya Gressa dalam hati melihat Hera yang kesusahan menopang tubuhnya sendiri, tapi lagi-lagi gadis itu menyingkirkan hati nuraninya.

Catatan Abu-abu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang