Di tengah situasi yang sudah sulit, Zhang Xuen Chi sudah memberi tahu ayahnya agar membatalkan pengiriman kereta untuk mereka, dengan alasan bahwa ia ingin berkeliling Kekaisaran Wang. Kaisar Zhang tentu menyetujui nya dan senang karena calon penerus kekaisaran sudah menemukan pasangannya.
Saat ini, di Kediaman Matahari hanya ada Zhang Xuen Chi, Wang Chu Mei dan sang pemilik kediaman yang terbaring di atas ranjang. Sedangkan kaisar serta permaisuri sudah pergi dari tadi dan sama sekali tidak peduli juga tidak mau tahu dengan keadaan putri mereka.
"Kakak ipar, apa benar Mei Lan yang meracuni kakak?"
"Ya, dan aku sangat yakin gadis tak tahu diri itu yang meracuni Xia'er. Mengapa aku bisa yakin? Karena aku melihat sendiri jika jalang itu keluar dari kediaman ini dengan tergesa-gesa."
Zhang Xuen Chi menjelaskan pada gadis di hadapannya tentang apa yang ia ketahui. Wang Chu Mei yang mendengar nya menjadi sangat marah. Tanpa basa-basi, buru-buru ia keluar kediaman dan berjalan menuju Kediaman Awan menemui jalang itu.
Ia benar-benar sudah tidak bisa mentoleransi sikap gadis yang sialnya adalah kembaran nya itu. Dia memang sangat suka menganggu kakaknya, tapi kali ini dia sudah kelewatan karena berani menggunakan racun.
Sesampainya di Kediaman Awan. Dari luar jendela yang terbuka ia melihat Wang Mei Lan yang sedang minum teh dengan santai, dan jangan lupakan raut wajah bahagia di atas penderitaan kakaknya.
Denfan sigap ia melompat masuk ke dalam dan membuat sang pemilik kediaman terkejut melihat kedatangannya.
"Hai, selamat pagi," ujarnya, lalu mengedarkan pandangannya ke segara penjuru ruangan yang sangat mewah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Wang Mei Lan lantas berdiri, bersiap untuk mengumpat di depan wajah Wang Chu Mei yang sangat tidak sopan.
"Kau?! Apa yang kau lakukan di sini?! Pergilah! Lantai kediaman ku yang mewah ini bisa kotor terkena kuman dari tubuhmu yang tak berguna itu!" bentaknya penuh penghinaan.
Wang Chu Mei berkacak pinggang sembari menatap dari basah ke atas tubuh gadis licik di hadapannya yang terbalut pakaian mahal. Ck, sial, amat berbeda darinya yang sangat apa adanya ini, huh! Ia tersenyum sinis menanggapi cacian yang ditujukan padanya tanpa merasa tersinggung sedikitpun.
"Ck, sombong sekali."
Ia melangkah menghampiri guci giok berkilau berwarna kuning keemasan dengan sedikit bercak merah muda yang terletak di atas meja dan mengamatinya.
Wang Mei Lan melotot saat orang di depannya ini bahkan tidak menggubris ucapannya.
"Hei! Menjauh dari guci kesayangan ku! Apa kau tidak tahu jika itu sangat mahal! Bahkan jika harga dirimu itu dijual tidak akan bisa mengganti yang baru!"
Wang Chu Mei tersenyum melengkung ke bawah menatap Wang Mei Lan yang sedang ber api-api.
"Yang mana? Yang ini?" Ia menunjuk benda di depannya.
"Ups.."
PRANG!!
Dengan sengaja diiringi raut wajah tak berdosa, Wang Chu Mei mendorong guci giok itu hingga jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping tepat di depan mata gadis berhanfu merah tersebut.
"Tidakk!!!" Wang Mei Lan berteriak histeris sambil mencengkram erat kepalanya frustasi dengan mata melotot terkejut, lucu sekali menurut Wang Chu Mei. Dia berlari menghampiri pecahan guci kesayangannya yang sudah berserakan di lantai seraya menangis, kemudian mendongak menatap wajah Wang Chu Mei.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?! Kau menghancurkan benda kesayanganku!!" Ia berteriak kencang.
"Oh, maafkan aku. Ups..."
PRANG!!
Gadis cantik itu kembali menyenggol secara sengaja sebuah teko teh pajangan yang terletak tak jauh darinya hingga pecah berserakan di lantai.
"Kau memang sialan!!"
Wang Mei Lan berteriak kesetanan. Dia menyerang Wang Chu Mei menggunakan elemen Api, akan tetapi tak berhasil mengenai sasaran karena ia segera menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana rasanya jika sesuatu berharga milikmu diganggu orang lain?"
"Marah? Tidak terima? Itulah yang aku rasakan saat kau meracuni kakakku."
Ia melangkah maju mendekati Wang Mei Lan yang entah mengapa malah berjalan mundur. Ya, tak dapat dipungkiri jika gadis itu sebenarnya takut padanya sejak kecil, dia ini hanya besar di mulut. Sudah berapa kali ia menghajar Wang Mei Lan sampai babak belur yang dulu selalu berusaha menganggu kakaknya.
"Aku tidak pernah mengganggu kakak mu itu, sialan!"
"Oh? Tidak pernah? Jadi, apakah racun lotus hitam bisa masuk sendiri ke dalam kue yang dimakan kakaku?"
"JAWAB AKU!!"
Wang Chu Mei mencekik lehernya dengan erat sampai membuat gadis itu terbatuk-batuk karena terus berusaha memberontak dan sesak. Dia sekaligus heran, mengapa dirinya tidak bisa melawan tenaga Wang Chu Mei yang aslinya tidak memiliki energi spiritual. Sekuat apapun dia berusaha, bahkan sampai mengeluarkan setengah dari energi spiritual nya, dia belum juga mampu menyingkirkan Wang Chu Mei dan hanya bisa menggeser sedikit jari kelingking nya.
Melihat Wang Mei Lan yang hampir kehilangan kesadaran, ia lantas menghempaskan tubuh gadis itu ke lantai. Dia buru-buru menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Cukup begini saja. Aku bisa repot jika kau yang katanya 'putri kesayangan Ayah' sampai mati di tangan seorang gadis yang tidak memiliki kekuatan." Ia menatap datar ke arah Wang Mei Lan.
"Mengaku saja, kau pasti merasa iri pada kakakku karena bisa merebut hati Putra Mahkota. Jujur saja, aku ingin tertawa saat melihat caramu yang mencoba membunuh Kakak. Sangat tidak mulus, mudah ketahuan," ejeknya.
"Sialan! Aku tidak pernah menaruh rasa iri pada orang seperti Xia Ai sampah itu!!" bentaknya tak mau mengaku.
"Kalau tidak iri, apa lagi? Merasa tersaingi karena tak mampu menarik perhatian Putra Mahkota menggunakan wajahmu yang tidak seberapa itu?"
"Lihat saja! Aku akan mengadukan mu kenapa Ayah!" ujarnya mengancam. Namun, Wang Chu Mei hanya tertawa dibuatnya.
"Ah, ya, seharusnya aku sadar dari awal jika kau ini adalah anak manja yang hanya bisa merengek, mengadu dan meminta-minta pada orangtua, bahkan tak mampu mencari pembenaran untuk diri sendiri." Wang Chu Mei menutup mulutnya dengan tangan seraya memasang ekspresi terkejut.
"Pembenaran apanya? Bukankah kau yang salah di sini?"
Ia merapalkan mantra, lalu mengangkat tangan kanannya sejajar dengan bahu dan memunculkan Api di atas telapak tangannya.
"Lihat. Apa kau bisa membuat yang seperti ini?" Ia mengarahkan Api spiritual itu tempat di depan wajah Wang Mei Lan yang terkejut.
"B-bagaimana bisa?! Ini tidak mungkin!"
"Apanya yang tidak mungkin? Lihat ini."
Wang Chu Mei berputar hingga memunculkan angin kencang yang mengelilingi tubuhnya sampai membuat tirai-tirai jendela beterbangan berantakan. Lalu berjongkok mengetuk lantai sebanyak tiga kali dan tiba-tiba muncullah akar tumbuhan yang keluar menembus lantai hingga retak.
"Masih tidak percaya?"
Ia kemudian menghentakkan kakinya ke tanah dan seketika Kediaman Awan bergetar hebat beberapa saat.
"Tidak mungkin.."
Wang Chu Mei tersenyum sinis dan berjongkok di hadapan gadis itu.
"Jadi, coba sekarang pikirkan bagaimana reaksi Ayah dan Ibu saat mengetahui jika selama ini aku dan kakakku ternyata memiliki energi spiritual dan sudah berada di ranah Legendaris? Aku sebenarnya tidak ingin pamer kepada siapapun sebab Kakak melarang, tapi karena kau selalu mencari masalah, aku jadi ingin menunjukan siapa diriku yang sebenarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)