13. Dibandingkan

248 18 0
                                        

Tabib berjalan dengan tergesa-gesa menuju Kediaman Matahari.

Setelah sampai, alangkah terkejutnya Tabib Mo melihat Wang Xia Ai mengeluarkan darah segar berwarna hitam pekat dari mulutnya, buru-buru ia memeriksa gadis cantik itu tanpa memberikan salam pada Putra Mahkota karena terlalu panik melihat kondisi Wang Xia Ai yang semakin parah.

"Yang Mulia, tampaknya Putri Xia Ai semakin kehilangan peluang untuk tetap hidup. Jika tidak diberi penawar ramuan Lotus Putih dalam waktu lima jam saja, maka itu akan sangat buruk untuk Putri Xia Ai, Yang Mulia," ujar Tabib Mo memberitahu Zhang Xuen Chi dengan hati-hati bahwa Wang Xia Ai tidak bisa mendapatkan peluang hidup lebih lama lagi.

"Tidak mungkin! Tabib, kau bilang Xia'er akan bertahan hingga tiga hari dan sekarang kau mengatakan bahwa sisa waktunya hanya tersisa lima jam, apa ini tabib?!" Pria itu mengguncang keras tubuh Tabib Mo penuh emosi.

Zhang Xuen Chi berkata dengan nafas yang memburu, Bao San saja belum kembali, dan sekarang Xia Ai hanya mampu bertahan hingga lima jam, ia semakin frustasi.

"PENGAWAL!!"

Tak lama kemudian datanglah sepuluh orang pengawal dengan wajah ketakutan. Zhang Xuen Chi menghampiri semua pengawal, lalu mengintrogasi mereka.

"Sedang apa kalian sedari tadi hingga membiarkan pelayan itu masuk dan meracuni putri!!" Ia benar-benar marah dengan penjagaan yang sangat buruk seperti ini. Jika saja ia tidak datang tadi, mungin pelayan itu sudah meminumkan racun dalam mangkuk hingga habis.

"Mohon ampun, Yang Mulia, tadi kami memang melihat seorang pelayan hendak masuk ke kediaman. Setelah kami tanyakan, dia mengaku membawa obat untuk tuan putri atas perintah tabib Mo, sehingga kami membiarkannya masuk, Yang Mulia." Salah satu prajurit menjelaskan jika mereka tidak bersalah.

Zhang Xuen Chi yang mendengar nama Tabib Mo seketika menatap nya tajam, Tabib Mo yang mengerti situasi pun segera bersujud.

"Ampuni hamba, Yang Mulia, hamba tidak pernah menyuruh orang ataupun seorang pelayan untuk membawakan obat untuk tuan putri, Yang Mulia." Tabib Mo membela diri atas namanya yang ikut terbawa kasus pelayan yang meracuni Wang Xia Ai, bagaimanapun juga keselamatan kepala nya sangat terancam saat ini.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Baiklah, Tabib Mo dan kalian boleh keluar, dan ingat satu hal! Jangan biarkan siapapun masuk selain Benwang sendiri!"

"Baik, Yang Mulia."

Zhang Xuen Chi berjalan terburu-buru menuju Kediaman Awan milik Mei Lan. Setelah sampai, kasim mengumumkan kedatangan Putra Mahkota di kediaman awan. Wang Mei Lan yang mendengarnya segera merapihkan rambut dan hanfu nya. Meski masih merasa sakit karena mendapat luka dari goresan sialan itu, ia tetap bersemangat, kemudian keluar dengan senyum terbaik nya, berpikir bahwa Zhang Xuen Chi sudah berubah pikiran dan meninggalkan Wang Xia Ai yang sudah sekarat.

"Salam, Yang Mulia," ujar Wang Mei Lan memberi salam dengan suara yang dilembut-lembutkan membuat pria tampan itu ingin muntah sekarang juga.

"Kau tidak perlu bersikap seolah kau tidak berbuat apa-apa." Zhang Xuen Chi berkata dengan raut wajah datar dan dingin.

"Apa maksudmu Yang Mulia, aku tidak mengerti?" tanya nya sok polos.

"Kau yang telah meracuni Xia'er, kan!" Zhang Xuen Chi sudah geram dengan tingkah Wang Mei Lan yang nampaknya tidak merasa bersalah sedikitpun dan malah berpura-pura tidak tahu.

Wang Mei Lan mendadak menjadi gugup saat mengetahui jika Zhang Xuen Chi ternyata mencurigainya. Sial! Mengapa selalu saja ada orang yang mencampuri urusan nya dan melindungi sampah itu!

"Ti-tidak Yang Mulia, u-untuk apa saya me-melakukan itu." Dia berusaha mengelak dengan Suara gugup nya.

"Benwang tidak suka orang yang banyak berbasa-basi!" ujarnya penuh penekanan. Meskipun marah, ia tidak ingin gegabah.

"Mengaku saja. Apa alasan dari perbuatan mu itu?"

Gadis itu tersenyum kecut kala mendengar suara mengintimidasi dari Zhang Xuen Chi yang masih mempertanyakan hal ini. Apakah cinta sendirian memang sesakit ini?

"Anda seharusnya sadar jika saya telah lama menaruh rasa kepada Yang Mulia!" katanya menggebu-gebu, menahan air mata yang telah siap menetes kapan saja.

"Apakah itu pantas disebut sebagai alasan?" Zhang Xuen Chi mengangkat sebelah alisnya tak acuh. Masih dengan posisi berdiri yang sama, dengan kedua tangan di belakang punggung ia menatap datar wajah gadis munafik di depannya ini.

"Dengan sifat dan perbuatan mu ini, apa kau masih merasa pantas bersanding dengan Benwang?" Zhang Xuen Chi kemudian maju satu langkah mendekati Wang Mei Lan.

"Atas perbuatanmu yang telah berani mengusik Xia'er, kau masih berpikir kalau Benwang akan melirikmu?" Ia mencondongkan tubuhnya ke arah gadis tersebut.

"Tidak akan!" ucapnya penuh penekanan.

Air mata Wang Mei Lan menetes saat itu juga ketika mendengar kata-kata menyakitkan dari Zhang Xuen Chi. Namun, pria itu jelas hanya menganggap Wang Mei Lan hanya berpura-pura untuk mendapatkan belas kasihan nya.

"Kau sangat jahat! Aku tulus mencintaimu, tapi kau malah merendahkan ku seperti ini!" katanya dengan isak tangis.

"Apa kurangnya aku dibandingkan dengan Xia Ai sampah itu?! Apa yang kau lihat dari gadis yang sama sekali tidak pernah dicintai sepertinya?!" bentak Wang Mei Lan menggebu-gebu. Dadanya naik turun seiring dengan deru napasnya yang cepat.

"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan Xia'er. Kau dan dia sangat jauh berbeda."

"Ketulusan yang kau bicarakan itu hanyalah obsesi belaka. Kau tidak mencintaiku, kau hanya ingin harta dan tahta di balik kekuasaan ku. Berani sekali kau membandingkan diri dengan Wang Xia Ai."

Gadis itu berdecih sinis. Ia menghapus kasar sisa airmata di pipinya.

"Kau sangat mencintainya, kan? Baiklah." Wang Mei Lan mengangguk

"Ingat kata-kata ku ini di sepanjang hidupmu! Jika aku tak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh! Aku bisa memastikan kebahagiaan yang kalian miliki saat ini tidak akan bertahan lama! Ketika kebahagiaan mu sudah berada di puncak tertinggi, di situlah aku akan kembali dan menghancurkan semuanya!"

"Rendahan!"

Tangan kekar Zhang Xuen Chi hampir saja melayang hendak menampar Wang Mei Lan yang hanya diam menunggu tamparan mendarat di wajahnya. Dia menatap pria di hadapannya dengan tatapan meremehkan.

"Kenapa? Tidak berani?"

"Agh!" Ia menggeram kesal, lalu berbalik pergi meninggalkan gadis itu seorang diri di sana.

"Lihat saja nanti. Kau akan menyesal karena telah menantang seorang Wang Mei Lan."

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang