47. Tantangan

134 10 0
                                        

Hari penting dan penuh kesibukan belum selesai. Langit menggelap, memperlihatkan bulan yang sudah menempati posisinya di atas sana. Suara riuh di tengah keramaian menghiasi aula besar yang dipenuhi dengan para bangsawan yang sedang berpesta.

Saat ini, semua tamu undangan masih menikmati yang sekarang sudah masuk ke acara pertunjukan bakat yang sebelumnya diisi oleh acara penyambutan Putri Mahkota Kekaisaran Zhang.

Pembawa acara berdiri untuk memulai acara pertunjukan bakat, dia berbicara lantang.

"PERTUNJUKAN BAKAT DIMULAI!! BAGI PARA NONA BANGSAWAN DAN PARA PUTRI BISA MENAMPILKAN BAKAT MASING-MASING!!"

Ketika pemberitahuan itu jatuh. Para putri dan nona bangsawan lainnya menjadi bersemangat termasuk Wang Mei Lan. Ia akan mempermalukan Wang Xia Ai di hadapan semua orang. Dalam pertunjukan ini para nona bangsawan boleh menantang bangsawan lain untuk menampilkan bakat mereka. Ia masih tidak percaya dengan omong kosong Chu Mei sialan itu.

Satu per satu gadis-gadis bangsawan mulai tampil dan menunjukkan bakat mereka. Menari, bernyanyi, bermain pedang, alat musik, pertarungan elemen, dan banyak lagi. Sambutan tepuk tangan pun mereka dapatkan, hal itu membuat mereka sangat bangga dan senang.

Kini giliran Wang Mei Lan yang akan menampilkan bakatnya, yaitu tarian pedang dan elemen. Pasti semua orang akan memujinya. Ia maju dengan percaya diri, berjalan di atas panggung pertunjukkan, kemudian sedikit membungkuk untuk memberi hormat.

Wang Mei Lan menari dengan lihai, lembut, dan teratur. Hal itu membuat namanya menjadi semakin baik di mata semua orang. Dengan pedang di tangannya, ia menari bagai kupu-kupu di udara dengan percikan elemen Api nya. Hingga ia terlihat seperti Dewi Perang yang anggun dan tegas.

Selang berapa menit, gadis cantik itu menyelesaikan tariannya. Penonton bertepuk tangan riuh dan menyoraki namanya serta memujinya. Wang Mei Lan benar-benar terbuai dengan pujian itu, tapi ia tetap mempertahankan keanggunan. Kini, ia akan memulai rencana untuk mempermalukan si sampah itu.

Wang Mei Lan membalikkan badannya menghadap pada singgasana kaisar, permaisuri, Zhang Xuen Chi dan Wang Xia Ai yang duduk berdampingan, lalu ia membungkuk hormat.

"Salam hormat pada Yang Mulia Kaisar, Permaisuri, Putra Mahkota, dan Putri Mahkota Kekaisaran Zhang."

"En," jawab Kaisar Zhang disertai senyuman, merasa penasaran hal apa yang akan disampaikan olehnya.

"Putri ini meminta izin pada Yang Mulia Kaisar untuk menantang Putri Mahkota di pertunjukan bakat," tutur Wang Mei Lan penuh kelembutan, tapi senyum smirk di bibirnya tidak bisa menyembunyikan niat buruknya.

Zhang Xuen Chi menggeram kesal ketika mendengar permintaan Wang Mei Lan. Pasti putri tak tahu diri ini ingin mempermalukan istrinya. Dia tidak tahu saja, bahwa istrinya tidak selemah itu.

Kaisar Zhang yang mendengar permintaan tersebut pun menjadi gelisah. Ia sudah mendengar banyak tentang putri sulung Wang yang diacuhkan karena tidak berguna. Namun, tak akan menyangka jika akan ada seseorang yang menantang nya di tengah keramaian begini.

Di tengah kegelisahan Kaisar Zhang. Sebuah suara mengalihkan perhatian nya. Pria paruh baya tersebut lantas menoleh ke samping.

"Aku menyetujuinya," ucap Wang Xia Ai lantang, kemudian berjalan dengan anggun menuju panggung pertunjukan bakat dan berpapasan langsung di samping tubuh adiknya itu.

Wang Mei Lan merasa sangat senang bukan main. Ia tersenyum licik, pasti setelah ini di sampah itu tak akan memiliki wajah lagi untuk ditunjukkan di depan rakyat. Ia kemudian berjalan menyusulnya ke atas panggung.

"Mari."

Wang Xia Ai memberi penghormatan terlebih dahulu, begitupun sebaliknya, kemudian ia menutup mata dan merapalkan mantra sambil mengibaskan tangannya kanannya membentuk gerakan yang indah, membuatnya lengan hanfu merah nya ikut berterbangan.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang