45. Pernikahan (2)

125 9 0
                                        

Gadis cantik yang mengenakan hanfu merah mewah kurang bahan itu pun segera menuju kediaman yang dimaksud pelayan tadi. Ia berjalan seanggun mungkin dan mengangkat dagunya tinggi. Menunjukan statusnya yang tidak bisa dipermainkan.

Wang Mei Lan mengenakan hanfu merah yang senantiasa digunakannya setiap hari maupun di acara manapun. Dengan hiasan tusuk emas yang menjuntai di kepalanya, dan juga pakaian yang menambah kesan seksi. Baginya, warna merah adalah warna kebanggaan dan berani, karena itulah ia selalu menggunakannya. Tidak peduli apapun.

Setibanya di Kediaman Mawar. Ia langsung masuk tanpa permisi dan menemukan bahwa kedua saudaranya sedang asik berbincang tanpa mengetahui keberadaannya. Ia berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap datar dua orang itu.

"Ekhem... tampaknya kalian sangat bahagia, ya, tinggal di sini, Kakak," ujarnya, berhasil menarik perhatian kedua gadis yang sedang berbincang di depan sana.

Wang Chu Mei yang mendengar suara familiar itu pun langsung menoleh ke arah suara. Matanya berubah menjadi datar dan menatap malas. Orang ini lagi! Ada kepentingan apa hingga rubah bermulut ular ini datang dan mengganggu waktunya bersama kakaknya, dan lihatlah pakaian nya itu, sangat menjijikan.

"Kakak? Rupanya kau masih ingat. Ku pikir hubungan kita hanyalah sebatas orang asing yang tinggal di bawah satu atap," ujar Wang Chu Mei sinis. Matanya melirik ke arah lain, enggan menatap wajah gadis itu.

Wang Mei Lan diam-diam meremas hanfu nya guna menahan tangannya agar tidak menampar wajah sok cuek itu.

"Mei Lan."

Meskipun saudarinya tidak menyambut baik kedatangan Wang Mei Lan. Namun, Wang Xia Ai justru berdiri sambil tersenyum manis. Apalagi dengan hanfu merah emas khas pengantin yang indah, membuatnya terlihat sangat cantik.

"Ya," balas Wang Mei Lan dengan suara penuh kebencian. Ia sangat benci ketika melihat hanfu pengantin yang dikenakan Wang Xia Ai. Seharusnya ialah yang menggunakan hanfu itu, bukan si sampah tidak berguna di hadapannya ini!

"Kakak, sudahlah, jangan pedulikan dia. Siapa tau dia datang ke mari hendak membunuhmu lagi," sindir Wang Chu Mei pedas.

Wang Mei Lan yang merasa geram, langsung menatap nyalang Wang Chu Mei. Dia yang ditatap nyalang pun membalas tatapan gadis angkuh itu tak kalah sengit. Apa dia pikir bahwa dirinya sangat penakut? Ia tidak akan terpengaruh dengan ancaman kosong Wang Mei Lan ini. Ia akan berusaha melindungi kakaknya apapun yang terjadi.

"Apa yang kau katakan?" tanya Wang Mei Lan sambil menahan amarah.

"Apa kau tuli? Masih muda tapi sudah tidak bisa mendengar," balasnya sarkas tajam menusuk.

"Kau!!" bentak Wang Mei Lan. Ia menunjuk Wang Chu Mei tepat di depan wajahnya.

"Apa?! Kau pikir aku tidak berani melawan putri sombong sepertimu? Aku tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibu sangat menyayangi anak rubah seperti mu!" bentak Wang Chu Mei yang juga mudah tersulut emosi.

Gadis berhanfu merah itu tersenyum meremehkan sambil menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.

"Bilang saja kalau kau iri, dan kau tetaplah anak yang tidak dianggap. Jadi jangan bersikap besar kepala. Aku tidak akan sudi membagi kasih sayang Ibu dan Ayah dengan kalian," katanya sombong.

"Sudahlah kalian berdua. Aku tahu bahwa hubungan kita tidak baik selama ini, tapi kita tetaplah saudara," ucap Wang Xia Ai melerai secara lembut.

Wang Mei Lan yang sedang beradu mulut dengan Chu Mei pun beralih menatap Xia Ai yang berusaha melerai mereka.

"Apa kau bilang? Kita? Saudara? Aku tidak salah dengar, kan? Aku tidak sudi menganggap kalian saudara!" bentaknya.

Wang Xia Ai yang dibentak seketika terkejut dan menatap datar sang adik. Jika kelembutan nya tak dihargai, maka ia tidak punya pilihan lain selain ikut membesarkan suara di sini.

"Apa kau mencoba membohongi dirimu?! Kita mempunyai Ayah dan Ibu yang sama dan kau masih tidak mau menganggap kami saudara mu? Apa matamu buta!!" Wang Xia Ai membentak lawan bicaranya dengan napas menggebu-gebu. Ini tidak benar, ini harus diluruskan.

Wang Mei Lan yang dibentak Xia Ai pun terkejut dan tanpa sadar melangkah mundur ketika mendengar suara keras Xia Ai yang dulu dikenalnya sangat lembut dan lemah.

"Beraninya kau membentak ku!" Ia menggertak, berharap bahwa gadis ini akan kembali takut padanya. Sayangnya hal itu tidak terjadi, dan malah semakin memburuk keadaan.

"Apa alasan ku untuk takut padamu?! Aku adalah kakakmu! Dan kau tidak bisa lari dari kenyataan itu!" bentak Wang Xia Ai dengan napas memburu mulai terbawa suasana.

"Kalian! Awas saja! Aku akan membalas kalian nanti!" ucap Wang Mei Lan kemudian pergi dari Kediaman Mawar dengan amarah.

Ia menghela napas pasrah. Mengapa harus ada perbedaan di antara mereka?

"Jangan urusi dia, Kak. Fokus saja pada pernikahan mu sebentar lagi," ujarnya menghibur.

"En, kau benar, Chu Mei," balasnya membenarkan ucapan sang adik. Ia tidak boleh terlalu memikirkan kejadian tadi dan hanya akan berfokus pada pernikahan nya.

Di tempat lain.....

Wang Mei Lan melangkahkan kakinya kesal dan melupakan cara berjalan anggun nya tadi. Sungguh ia sangat kesal saat ini dan semakin tak tahan untuk melenyapkan kedua orang itu yang sialnya adalah saudaranya!

"Akgghh!!" Ia berteriak geram dan melempari kolam dengan batu-batu kecil. Hingga sebuah suara pria menghentikannya.

"Salam, Yang Mulia Putri," ucap hormat pria itu sambil membungkukan badannya dengan tangan kanan di depan dada.

Wang Mei Lan yang masih kesal langsung beralih menatap pria yang menganggu acara mengamuknya. Seketika kekesalannya sirna ketika melihat wajah tampan pria di hadapannya.

Pria itu adalah sahabat Zhang Xuen Chi, sekaligus Jendral di Kekaisaran Zhang. Luo Mo Chen. Jendral muda tampan pangkat tinggi yang sudah memenangkan perang-perang besar dan mengalahkan musuh bagi Kekaisaran Zhang.

Ia seketika melupakan kekesalannya, sibuk mengangumi wajah tampan dan tegas pria di hadapannya ini.

"Emm.. Yang Mulia Putri?" panggil Luo Mo Chen sambil melambaikan tangannya di depan wajah Wang Mei Lan yang melamun.

"Eh.. iya." Ia menjawab setelah sadar, lalu merapihkan hanfu nya dan memasang senyum terbaik.

"Kau.. siapa namamu, tampan?" tanya Wang Mei Lan genit.

"Nama hamba Luo Mo Chen. Jendral di Kekaisaran Zhang," jawab pria itu salah tingkah dengan ucapan genit sang gadis.

"Kau sangat hebat pastinya. Perkenalkan, aku Putri Bungsu Wang Mei Lan." Ia memperkenalkan dirinya dengan lembut.

"En, hamba sudah mendengar banyak tentang tuan putri," ucap Luo Mo Chen menyanjung.

"Benarkah?" Wang Mei Lan tersipu malu sambil menutup bibirnya dengan kipas yang ia bawa.

"Tentu saja putri, sedang apa Yang Mulia Putri berada di sini dengan suasana hati kesal?" tanya Luo Mo Chen penasaran.

"Ah, tidak ada. Itu hanya masalah kecil," jawabnya berusaha menutupi kekesalannya tadi.

"Jangan se-formal itu, Jendral. Anggap saja aku temanmu," kata Wang Mei Lan modus agar bisa lebih dekat dengan jendral tampan ini.

"Hamba tidak berani, Yang Mulia Putri, hamba hanya seorang jendral," ucap Luo Mo Chen menolak halus. Ia tadi hanya tidak sengaja lewat dan menyapa tuan putri bungsu Wang ini.

"Ssstttt... tidak apa, hanya ketika kita berdua," ujarnya sambil mengedipkan satu matanya menggoda.

Luo Mo Chen yang digoda pun mulai berbincang dengan Wang Mei Lan dengan akrab.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang