Zhang Jinxu sangat teramat puas dengan balasan yang diberikan Putri Wang Xia Ai pada kakak sialan nya itu. Setelah itu ia pergi dari Kediaman Mawar meninggalkan Zhang Xuen Chi yang merengek pada kekasihnya.
"Xia'er, apa yang kamu lakukan? Itu sangat sakit." Pria tampan tersebut berkata dengan wajah cemberut.
"Mau bagaimana lagi? Dia datang mengganggu tidurku dan aku kasihan melihat wajahnya, jadi aku berpikir untuk segera menyelesaikan ini lalu melanjutkan tidur lagi," balas Wang Xia Ai yang kini menguap.
"Apa kamu tidak memikirkan harga diriku? Anak itu akan merasa semakin menang ketika melihatku dihukum olehmu," katanya tak terima.
Gadis cantik itu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, menatap Zhang Xuen Chi yang masih mencari pembenaran.
"Kamu masih bisa berbicara tentang harga diri? Apa kamu tahu? Berdebat karena hal sepele dan membuang-buang waktu itu saja sudah cukup untuk membuat harga dirimu hilang." Ia berbalik dan berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di sana.
"Bersikaplah dewasa sedikit. Dia itu masih anak-anak, jika dia mengejekmu, maka biarkan saja. Semakin kamu marah, dia akan semakin senang mengganggu mu," ucap Wang Xia Ai menasihati.
Zhang Xuen Chi diam mematung. Ia kagum dengan pemikiran kekasihnya yang bijak. Meskipun umurnya jauh lebih muda darinya, akan tetapi dia tahu bagaimana caranya mendapatkan ketenangan. Ia berjalan menghampiri Wang Xia Ai dan duduk di sampingnya.
"Tolong ajari aku menjadi sepertimu," katanya sambil menatap wajah cantik sang gadis.
"Aku? Mengajar untuk apa?" tanya Wang Xia Ai tidak mengerti. Dia mengerutkan keningnya bingung.
"Bagaimana caranya menjadi orang yang sabar dan tetap tenang."
Mendengar hal tersebut, Wang Xia Ai lantas tertawa kecil yang membuat Zhang Xuen Chi kebingungan.
"Kamu belum mengenal diriku sepenuhnya, Xuen. Aku juga manusia yang bisa merasakan marah dan sedih. Hanya saja aku tidak menunjukkan itu pada orang-orang," ujarnya.
"Kenapa? Kamu juga berhak berekspresi." Pria tersebut semakin penasaran. Gadis ini terlalu banyak menyimpan rahasia dan luka. Wang Xia Ai menunduk sambil menggoyangkan kedua kakinya yang tidak menapak di lantai sambil tersenyum.
"Entahlah. Aku hanya berpikir kalau tak ada seorangpun yang akan peduli jika aku menangis atau yang lain. Jadi aku bersikap untuk tetap terlihat tenang, dan selalu tersenyum, tapi setelah melihatmu yang telah menilai jika diriku adalah orang yang sabar, aku jadi senang karena berhasil membangun pondasi karakter yang kuat," katanya. Pria itu menatapnya seraya menanyimak setiap perkataannya.
"Dari kecil aku terbiasa sabar, bukan sebab aku baik, tapi karena aku pasrah menerima keadaan, malas melawan hal yang sia-sia dan akhirnya hanya membuang energi saja. Meski pada kenyataannya aku memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Namun, hatiku lemah. Ayah dan Ibu tidak pernah membela ku, tidak pernah merayakan hari istimewa ku, juga tak mau menatap wajahku."
"Berbeda dengan Chu Mei. Jika aku hanya bisa pasrah, tapi anak itu sangat marah dan benci pada keadaan. Dia terus memberontak dan bersikap kasar. Aku tak mengerti mengapa hubungan kami menjadi rusak hanya karena telah dibeda-bedakan sejak kecil."
Wang Xia Ai beralih menatap wajah Zhang Xuen Chi yang memandang nya dengan tatapan sendu, akan tetapi ia malah tersenyum setelah menceritakan cerita hidupnya.
"Kalau boleh jujur, aku sangat berterima kasih padamu, Xuen. Terima kasih sudah membawa ku keluar dari tempat mengerikan itu. Aku harap di sini aku di perlakuan baik, tidak perlu berlebihan, setidaknya lebih baik daripada di rumah," ujarnya halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasia'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)